Oleh : Bambang Sabekti
Pengamat Maritim dan Logistik
Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya mengubah rute pelayaran global, tetapi juga mulai mendorong kenaikan biaya container shipping yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Jalur utama Asia–Eropa yang selama ini mengandalkan koridor Timur Tengah kini menghadapi risiko tinggi, sehingga memaksa operator pelayaran mencari alternatif.
Dalam situasi ini, pelaku pelayaran global tidak lagi beroperasi dengan logika efisiensi semata. Rute pengiriman kini ditentukan oleh keseimbangan antara biaya, risiko, dan keandalan jaringan. Dampaknya, muncul pola pengiriman yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis.
Dua skema utama yang kini ditempuh carrier:
- Via Tanjung Harapan / Cape of Good Hope: Kontainer dari Asia menuju Eropa muter ke selatan Afrika untuk menghindari Laut Merah dan Teluk Persia. Rute ini menambah jarak tempuh 3.500–4.000 mil laut dan waktu layar 10–14 hari dibanding via Terusan Suez.
- Via Amerika Serikat: Kontainer dari Asia masuk melalui pelabuhan West Coast, kemudian di-haulage ke East Coast menggunakan jaringan kereta api sebelum dikapalkan kembali ke Eropa. Skema ini memanfaatkan kekuatan jaringan intermodal Amerika Serikat yang relatif stabil dan terjadwal.
Konsekuensinya, biaya logistik meningkat. Pengiriman via Tanjung Harapan maupun via Amerika Serikat diperkirakan menambah ongkos sekitar 30% hingga 70% dibanding jalur normal melalui Terusan Suez. Meski demikian, opsi ini tetap dipilih karena memberikan kepastian pergerakan barang di tengah tingginya risiko jalur utama.

Alternatif direct call ke East Coast melalui Terusan Panama tetap tersedia, namun memiliki keterbatasan kapasitas, ukuran kapal, serta potensi bottleneck. Hal ini membuat fleksibilitas rute menjadi semakin penting dalam menjaga kelancaran arus barang.
Meski biaya angkutan laut meningkat, moda ini tetap lebih kompetitif dibanding angkutan udara yang jauh lebih mahal. Karena itu, pelaku usaha tetap bertahan pada ocean freight dengan melakukan penyesuaian rute.
Dari perspektif Indonesia, dampaknya mulai terasa. Meski pemicu utama adalah gangguan di rute Asia–Eropa, dampaknya merembet ke ekspor Indonesia–Amerika karena berebut kapasitas kapal dan jaringan intermodal yang sama. Porsi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat cukup besar, sekitar 11% dari total ekspor nasional pada 2024 dengan nilai USD28,5 miliar. Komoditas utamanya meliputi tekstil & produk tekstil, alas kaki, produk elektronik, komponen otomotif, hingga furnitur. Pembelinya adalah “global account” seperti Adidas, Nike, Walmart, Kawasaki, serta prinsipal otomotif dan elektronik Jepang, Korea, dan AS yang punya pabrik di Indonesia.
Kelompok eksportir ini sangat sensitif terhadap “lead time” dan kepastian jadwal. Keterlambatan 10–14 hari akibat memutar via Tanjung Harapan atau tambahan biaya haulage di AS langsung menekan margin. Untuk industri padat karya seperti garmen dan alas kaki, kenaikan biaya logistik 30% bisa menggerus daya saing di pasar AS yang persaingannya ketat dengan Vietnam dan Bangladesh.
Tidak hanya importir, eksportir juga menghadapi kenaikan “ocean freight”, “lead time” yang lebih panjang, serta meningkatnya ketidakpastian jadwal pengiriman. Kondisi ini berpotensi menekan margin usaha, terutama bagi komoditas yang sensitif terhadap biaya logistik.
Gangguan ini menunjukkan bahwa “container shipping” sangat rentan terhadap dinamika geopolitik global. Ketergantungan pada satu jalur utama menjadi risiko nyata, sehingga ke depan diversifikasi rute dan penguatan ketahanan rantai pasok menjadi semakin penting.
Pada akhirnya, pelaku industri tidak lagi semata mencari rute tercepat atau termurah, tetapi rute yang paling dapat diandalkan. [•]
Leave a comment