Oleh : Bambang Sabekti
“Perspektif Efisiensi Nasional, Keselamatan, dan Keberlanjutan Infrastruktur”
Selama ini efisiensi angkutan barang di Indonesia sering dinilai hanya dari perbandingan langsung biaya pengiriman antara truk dan kereta api. Dalam skema tersebut, trucking terlihat lebih kompetitif karena fleksibel, mampu melayani door to door, dan tidak memerlukan proses perpindahan moda. Namun pendekatan ini belum mencerminkan biaya logistik nasional secara menyeluruh.
Pada praktiknya, sebagian besar biaya yang muncul akibat dominasi angkutan barang berbasis jalan raya tidak dibayar langsung oleh pelaku usaha, melainkan ditanggung negara dan masyarakat. Beban tersebut meliputi kerusakan jalan, perawatan jembatan, kemacetan, kecelakaan lalu lintas, emisi lingkungan, hingga biaya sosial akibat korban jiwa dan kerusakan cargo.
Koridor Pantai Utara Jawa (Pantura) menjadi contoh nyata. Pemerintah terus mengalokasikan anggaran besar untuk menjaga kelayakan jalur logistik nasional akibat tingginya beban kendaraan berat dan praktik Over Dimension Over Loading (ODOL). Dalam periode 2018–2023, biaya preservasi Jalan Pantura mencapai sekitar Rp6,52 triliun, sementara pada 2023 saja pemerintah mengalokasikan Rp1,33 triliun untuk preservasi jalan nasional di jalur Pantura. Pada 2026, anggaran preservasi kembali meningkat hingga sekitar Rp1,49 triliun. Di sisi lain, kerugian negara akibat kerusakan jalan yang dipicu ODOL diperkirakan mencapai lebih dari Rp40 triliun per tahun.
Dari perspektif keselamatan, dominasi angkutan truk juga berkontribusi terhadap tingginya risiko kecelakaan lalu lintas pada jalur logistik nasional. Tingginya interaksi kendaraan berat dengan kendaraan pribadi, bus, dan sepeda motor meningkatkan potensi fatalitas manusia, kerusakan cargo, dan gangguan distribusi nasional. Angkutan kereta api menawarkan tingkat keselamatan yang lebih baik karena beroperasi pada jalur khusus, memiliki risiko tabrakan lebih rendah, dan mampu menjaga kestabilan distribusi barang secara lebih terukur.
Selain itu, dari perspektif lingkungan, angkutan barang berbasis kereta api memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi dan emisi yang lebih rendah dibanding angkutan jalan raya untuk volume muatan besar dan jarak menengah hingga jauh. Hal ini menjadi penting dalam mendukung agenda keberlanjutan nasional dan pengurangan emisi sektor transportasi.
Meski demikian, kereta api bukan pengganti penuh trucking. Pendekatan yang paling efektif adalah membangun integrasi moda transportasi, dimana kereta api difungsikan sebagai backbone angkutan jarak menengah dan jauh, sementara truk tetap menjadi moda utama untuk distribusi last mile dan first mile. Dengan pendekatan ini, efisiensi logistik nasional dapat ditingkatkan tanpa menghilangkan peran strategis sektor trucking.
Oleh karena itu, kebijakan transportasi barang nasional tidak seharusnya hanya berorientasi pada tarif pengiriman paling murah, melainkan harus mempertimbangkan total economic cost terhadap negara. Penguatan angkutan barang berbasis kereta api harus dipandang sebagai investasi strategis untuk:
- menekan biaya pemeliharaan infrastruktur jalan;
- mengurangi kecelakaan lalu lintas;
- meningkatkan keselamatan manusia dan cargo;
- memperkuat ketahanan logistik nasional;
- serta menciptakan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan efisien secara jangka panjang.

Dalam konteks pembangunan ekosistem logistik nasional, kereta api barang bukan sekadar alternatif moda transportasi, tetapi instrumen penting untuk mengurangi beban fiskal negara dan meningkatkan kualitas infrastruktur logistik Indonesia secara keseluruhan. [•]
Leave a comment