Home Uncategorized Komut Pertamina Tinjau KANG ILING, Program CSR yang Sulap Limbah Jadi Peluang Usaha Warga Pesisir
Uncategorized

Komut Pertamina Tinjau KANG ILING, Program CSR yang Sulap Limbah Jadi Peluang Usaha Warga Pesisir

Share
Komut Pertamina Tinjau KANG ILING, Program CSR yang Sulap Limbah Jadi Peluang Usaha Warga Pesisir
Share

Sidoarjo, hotfokus.com

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, mengunjungi Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, untuk melihat secara langsung pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) KANG ILING yang dijalankan Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda, Rabu (1/7).

Program bernama Kalanganyar Circular Living Initiative (KANG ILING) tersebut mengembangkan konsep ekonomi sirkular dengan mengolah limbah cabut duri ikan bandeng serta minyak jelantah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah. Salah satu inovasi yang lahir dari program ini adalah Bio-Band, teknologi yang mampu memurnikan minyak jelantah sehingga dapat dimanfaatkan kembali secara aman.

Pelaksanaan program ini telah melibatkan 550 kepala keluarga dalam ekosistem pemberdayaan masyarakat. Sebanyak 79 anggota aktif ikut menggerakkan program, termasuk 42 perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tambak, pelaku UMKM, kader Posyandu, hingga kelompok masyarakat rentan.

Tidak hanya memberikan manfaat sosial, KANG ILING juga berhasil menciptakan dampak ekonomi. Selama satu tahun pelaksanaannya, program tersebut mampu membukukan omzet hingga ratusan juta rupiah, sekaligus menjalankan pengelolaan limbah secara berkelanjutan, memanfaatkan air bersih dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal, serta mendukung peningkatan gizi anak melalui pemanfaatan limbah sisik ikan.

Mochamad Iriawan menilai program tersebut menjadi contoh bahwa kegiatan CSR dapat menghasilkan manfaat jangka panjang apabila dijalankan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat.

“Program seperti ini menunjukkan bahwa CSR Pertamina tidak hanya berorientasi pada bantuan semata, tetapi mampu membangun kemandirian masyarakat melalui inovasi, pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian lingkungan,” ujar Iriawan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan program agar manfaat yang telah dirasakan masyarakat terus berkembang. Menurutnya, kolaborasi antara perusahaan dan warga menjadi fondasi utama dalam menciptakan program pemberdayaan yang berhasil.

Sementara itu, Local Hero UMKM Kucari, Solikha, menceritakan perubahan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya setelah program Pertamina berjalan. Ia mengatakan kawasan yang sebelumnya identik dengan persoalan limbah kini berkembang menjadi lokasi edukasi sekaligus tujuan pembelajaran.

“Pertama kali di sini kampung ini kumuh. Sebelum ada Pertamina, limbah semuanya biasanya dibuang di selokan. Akhirnya kami dibuatkan tempat seperti ini, yaitu Anaerobic Biofilter. Semuanya itu nggak abal-abal. Dari Pertamina, kampung kami jadi semakin dikenal. Ada edukasi, wisata, bahkan anak-anak akademi sering datang ke sini untuk belajar,” ungkap Solikha.

Program KANG ILING menjadi salah satu bentuk komitmen Pertamina dalam mengembangkan program CSR berbasis potensi lokal. Melalui sinergi bersama masyarakat, perusahaan terus menghadirkan berbagai inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Uncategorized

1.000 Riders BMW Motorrad Merapat ke Bali, Pertamax Turbo Bawa Kejutan

Bali, Hotfokus.com Bali menjadi titik temu para penggemar BMW Motorrad dari berbagai...

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027
Uncategorized

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai menggeber langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin....

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya? Bambang Sabekti Praktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional setiap 4 September menjadi momentum yang menarik bagi Pelindo. Sebab, tidak lama lagi, tepat 1 Oktober 2026, Pelindo memasuki lima tahun sejak merger empat BUMN pelabuhan. Lima tahun bukan lagi sekadar masa transisi. Periode ini sudah cukup untuk melihat apakah integrasi organisasi telah menghasilkan kemampuan operasional dan nilai bisnis yang lebih baik. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah merger Pelindo berhasil menyatukan organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa incremental value setelah Pelindo menjadi satu? Jawabannya perlu dilihat setidaknya dari dua sisi: operational excellence dan customer value. Dalam bisnis pelabuhan, operational excellence tidak cukup dimaknai sebagai meningkatnya produktivitas satu terminal. Pelabuhan merupakan sistem yang melibatkan kapal, terminal, peralatan, tenaga kerja, gate, yard, trucking, serta berbagai proses pelayanan. Operational excellence berarti kemampuan mengelola proses tersebut secara efisien, konsisten, reliable, dan predictable. Kapal membutuhkan kepastian berth. Bongkar muat membutuhkan produktivitas peralatan. Kontainer membutuhkan yard yang dikelola dengan baik. Truk membutuhkan proses gate yang lancar. Pengguna jasa membutuhkan informasi yang akurat dan keputusan operasional yang cepat. Satu titik yang tidak efisien dapat mengurangi manfaat efisiensi pada titik lainnya. Di sinilah merger memberikan peluang besar. Dengan berada dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki kesempatan mengembangkan common operating standard, berbagi best practices, mengoptimalkan aset dan kapasitas, serta menggunakan data dan teknologi secara lebih terintegrasi. Namun, standardisasi bukan tujuan akhir. Bagi pelanggan, salah satu manfaat paling fundamental dari merger seharusnya adalah ease of doing business. Sebelum merger, pengguna jasa berhadapan dengan entitas Pelindo yang berbeda sesuai wilayah dan pelabuhannya. Setelah merger, pelanggan secara logis mengharapkan pengalaman berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih sederhana: standar semakin jelas, proses semakin seragam, akses informasi semakin mudah, dan tidak perlu menghadapi variasi proses yang sebenarnya tidak memberikan nilai tambah. Inilah salah satu acid test merger: APAKAH MENJADI PELANGGAN PELINDO SEKARANG LEBIH MUDAH DARIPADA SEBELUMNYA? Pertanyaan tersebut bukan sekadar soal keramahan pelayanan. Ease of doing business menyangkut waktu, jumlah tahapan, transparansi, kepastian keputusan, kemudahan akses layanan, serta kemampuan pelanggan menyelesaikan urusannya tanpa proses yang berulang. Dengan perspektif yang sama, digitalisasi juga harus diukur dari manfaatnya bagi pelanggan. Keberhasilan digitalisasi bukan berapa banyak aplikasi yang dimiliki, tetapi berapa banyak proses yang menjadi lebih sederhana dan berapa banyak interaksi yang tidak lagi diperlukan pelanggan. Di sinilah operational excellence bertemu dengan customer value. Dalam bisnis kepelabuhanan, customer value dapat dilihat dari hal yang konkret: waktu yang lebih singkat, proses yang lebih sederhana, biaya yang lebih efisien, dan kepastian yang lebih tinggi. Merger juga memberikan peluang untuk mengelola Pelindo sebagai port network, bukan sekadar kumpulan terminal. Dengan jaringan nasional dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan kapasitas antarpelabuhan, berbagi best practices, mengurangi ketidakseimbangan utilisasi, dan memperkuat konektivitas antarkawasan. Namun, network advantage baru menjadi value apabila pelanggan dapat merasakannya dalam bentuk layanan yang lebih baik dan proses bisnis yang lebih mudah. Karena itu, ukuran keberhasilan merger juga harus tetap berada dalam scope Pelindo. Pelindo tidak menentukan surplus atau defisit perdagangan dan tidak dapat sendirian menyelesaikan seluruh persoalan biaya logistik nasional. Ukuran yang lebih fair adalah: seberapa besar efisiensi, reliability, dan kemudahan berusaha yang berhasil diciptakan pada bagian rantai logistik yang berada dalam kendali Pelindo? Memasuki tahun kelima merger, pertanyaan tersebut semakin relevan. Jika lima tahun pertama merupakan periode konsolidasi dan integrasi, lima tahun berikutnya semestinya menjadi fase untuk membuktikan incremental value of integration. Hari Pelanggan Nasional dapat menjadi reality check yang sederhana. Pelanggan adalah pihak yang paling tepat untuk menilai apakah perubahan internal perusahaan benar-benar menghasilkan perubahan yang mereka rasakan. Pada akhirnya, Pelindo tidak cukup hanya menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih terintegrasi. MERGER HARUS MEMBUAT PELANGGAN LEBIH MUDAH BERBISNIS DENGAN PELINDO. Kemudahan tersebut harus didukung oleh operasi yang semakin reliable, produktif, efisien, dan predictable. Pelindo sudah memiliki skala dan jaringan nasional. Tantangan lima tahun berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi operational excellence, operational excellence menjadi customer value, dan customer value menjadi ease of doing business. Itulah makna Hari Pelanggan Nasional yang relevan bagi Pelindo: bukan sekadar merayakan pelanggan, tetapi memastikan bahwa setelah lima tahun merger, pelanggan benar-benar merasakan bahwa berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih mudah.[•]
Uncategorized

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya?

Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional...

Uncategorized

Elang Jawa Diselamatkan, PGE Raih Penghargaan HKAN 2026

Jakarta, hotfokus.com Komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam menjaga satwa...