Oleh : Andi N Sommeng*
Konon demokrasi lahir dari perdebatan : orang duduk, bertukar pikiran, saling membantah, lalu pulang dengan kepala sedikit lebih waras. Di Athena, orang berdebat di agora. Di Eropa, gagasan revolusi beredar di kedai kopi.
Di Indonesia, urusan negara sering selesai lebih dahulu di warung kopi, meski keputusan resminya baru keluar beberapa bulan/tahun kemudian.
Dulu warung kopi adalah universitas rakyat. Harga satu cangkir dapat membeli berita, gosip politik, kritik pemerintah, teori konspirasi, bahkan calon menteri. Tidak semuanya benar, tentu saja. Tetapi setidaknya orang masih saling menatap ketika berbeda pendapat.
Kini warung kopi semakin ramai, namun percakapan semakin sepi. Empat orang duduk semeja, semuanya menunduk khusyuk pada gawai masing-masing. Mereka datang untuk berkumpul, lalu sibuk berbicara dengan orang yang tidak hadir. Kopinya nyata, temannya virtual.
Perdebatan pun pindah ke grup WhatsApp. Di sana, demokrasi berjalan sangat efisien: satu orang mengirim kabar dari media sosial, tiga orang menambahkan tanda seru, lima orang meneruskan tanpa membaca, dan sisanya menyimpulkan bahwa informasi itu pasti benar karena sudah dikirim oleh orang yang dikenal.
Sumber berita biasanya sangat meyakinkan: “katanya”, “viral”, “dapat dari grup sebelah”, atau “tolong sebarkan sebelum dihapus”. Verifikasi dianggap menghambat kebebasan berpendapat. Yang bertanya sumber justru dicurigai sebagai pendukung pihak lawan. Di grup keluarga, alumni, kompleks, dan organisasi, setiap anggota mendadak menjadi redaktur, analis intelijen, ahli hukum, ekonom, epidemiolog, sekaligus negarawan, cukup bermodal kuota internet dan keberanian menekan tombol forward.
Perdebatan di grup itu jarang dimaksudkan untuk mencari kebenaran. Tujuannya lebih sederhana: memastikan bahwa prasangka masing-masing mendapat tepuk tangan digital. Argumen dibalas stiker, data dilawan video potongan, dan klarifikasi sering datang ketika kabar palsu sudah berkeliling lebih cepat daripada undangan rapat.
Demokrasi akhirnya mirip warung kopi modern dan grup WhatsApp sekaligus: penuh anggota, penuh suara, penuh unggahan, tetapi miskin dialog. Orang tidak lagi datang untuk menguji gagasan, melainkan mencari pembenaran. Algoritma dan admin grup menjadi pelayan paling ramah: yang disukai dibiarkan beredar, yang mengganggu kenyamanan segera disebut membuat gaduh.
Padahal demokrasi bukan sekadar hak berbicara. Ia juga kewajiban mendengar, memeriksa, dan meragukan informasi sebelum ikut menyebarkannya. Bukan hanya menghitung suara, tetapi menimbang alasan. Bukan sekadar memilih pemimpin, lalu menyerahkan akal sehat kepadanya selama lima tahun.

Karena itu, ancaman demokrasi hari ini mungkin bukan tank di jalan raya atau parlemen yang dibubarkan. Bisa jadi lebih sederhana: meja penuh, kopi habis, baterai gawai terisi, grup WhatsApp gaduh, tetapi tidak ada satu pun pikiran yang benar-benar bertemu.
Dahulu warung kopi menghangatkan perdebatan. Kini kopi tetap panas, grup terus berbunyi, tetapi demokrasi perlahan menjadi dingin.
|A||N||S|
Buitenzorg,
12Juli2026
Verba volant, scripta manent
Leave a comment