Home NASIONAL Kementan Antisipasi Serangan Hama Ulat Grayak
NASIONAL

Kementan Antisipasi Serangan Hama Ulat Grayak

Share
Share

Jakarta, Hotfokus.com

Kementerian Pertanian melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi serangan hama Spodoptera frugiperda atau ulat grayak di beberapa daerah di Provinsi Sumatera Barat.

Menurut Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Edy Purnawan, melalui hasil temuan tersebut pihaknya telah mengambil langkah-langkah antisipasi dari bahaya hama yang berasal dari Brasil tersebut.

“Kami sudah mengirimkan surat edaran kepada Dinas Pertanian dan BPTPH untuk Provinsi di seluruh Indonesia. Kami ingatkan, untuk meningkatkan kewaspadaan dari bahaya hama yang juga dikenal sebagai ulat grayak itu,” kata Edy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (30/5/2019).

Dalam surat edaran tersebut, Kementan mengingatkan agar Pemprov melakukan pemantauan intensif, khususnya di daerah sentral produksi jagung. Selain itu Kementan juga mengirimkan bantuan pestisida ke lokasi-lokasi yang terindikasi terjadi serangan hama tersebut.

Ia mengungkapkan, langkah antisipasi lain yang dilakukan yakni gerakan pengendalian di daerah terjadinya serangan Spodoptera frugiperda. “Sampai dengan saat ini, Spodoptera frugiperda telah dilaporkan oleh petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan), telah ada di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Lampung,” paparnya.

Diantara provinsi yang melaporkan bahaya serangan hama ulat grayak, Provinsi Sumatera Utara yang merupakan daerah dengan serangan yang cukup luas. Antisipasi lain dari Ditjen Tanaman Pangan, telah mengirimkan bantuan pestisida ke lokasi-lokasi terjadinya serangan

Ulat grayak atau Spodoptera frugiperda (Fall armyworm) merupakan hama ulat grayak yang berasal dari daratan Amerika. Pada tahun 2016, persebarannya telah sampai di Nigeria, dan tahun 2018 telah ditemukan di Thailand dan Sri Lanka. Indonesia sendiri baru masuk di awal tahun 2019.

Edy menjelaskan, hama ulat grayak tergolong hama baru di Indonesia, dan masih dinyatakan sebagai OPT Karantina. Oleh karena itu, teknologi pengendalian yang spesifik untuk mengendalikan hama tersebut, belum banyak ditemukan.

“Jadi, untuk mendapatkan masukan dari para pakar perlindungan tanaman pangan, telah dilaksanakan FGD yang dihadiri oleh para pakar dari Perguruan Tinggi, yaitu UGM, IPB dan UB Malang,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, sejak bulan Maret 2019, hama spodoptera frugiperda atau Fall Armyworm (FWA) dilaporkan mulai ditemukan di Indonesia yakni di Pasaman Barat, Sumatera Barat.(ert)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
P2MI Jajaki Peluang Kerjadi Bandara Internasional Berbagai Negara
NASIONAL

P2MI Jajaki Peluang Kerjadi Bandara Internasional Berbagai Negara

Tangerang, hotfokus.com Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) jajaki peluang untuk mengisi...

Menperin: Perkuat Teknologi. IKM Cepat Naik Kelas & Mampu Ekspor
NASIONAL

Menperin: Perkuat Teknologi. IKM Cepat Naik Kelas & Mampu Ekspor

Jakarta, hotfokus.com Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji, meminta jajarannya memprioritaskan penguatan teknologi...

Kredit Perumahan Digenjot, Plafon Bisa Naik Jadi Rp50 Triliun
NASIONAL

Kredit Perumahan Digenjot, Plafon Bisa Naik Jadi Rp 50 Triliun

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai menggeber pembiayaan perumahan agar Program 3 Juta Rumah...

Jelang Akhir Tahun, Pemerintah Pasang Jurus Jaga Daya Beli dan Harga Pangan
NASIONAL

Jelang Akhir Tahun, Pemerintah Pasang Jurus Jaga Daya Beli dan Harga Pangan

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai memasang strategi menghadapi tekanan ekonomi menjelang akhir 2026....