Home INTERNASIONAL Fundamentalis ‘Kulit Putih’, Ancam Pluralisme Amerika
INTERNASIONALOPINIPOLITIK

Fundamentalis ‘Kulit Putih’, Ancam Pluralisme Amerika

Share
Share

Trump Pecat Pembantu Terdekatnya

Oleh Derek Manangka


JAKARTA – Steve Bannon, Penasehat Strategis Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dipecat.

Pemecatan terjadi Jumat siang waktu Washington atau Sabtu dinihari 19 Agustus 2017 Waktu Indonesia Barat.

Pemecatan Steve Bannon terkait maraknya aksi rasialis di negara tersebut. Aksi protes menyuarakan bahwa yang boleh ‘berkuasa’ di negara itu hanya orang kulit putih asli atau “white supremacy”, dalam satu minggu terakhir ini.

Steve Bannon sendiri dianggap sebagai konseptor utama kebjjakan rasialis di balik pemerintahan Donald Trump..

Kebijakan dimaksud, mengembalikan kejayaaan Amerika Serikat. Namun dalam terjemahannya menjadi Amerika yang anti warga kulit hitam, kulit berwarna lainnya dan anti-Islam.

Aksi rasialis berawal dari kota Charlottesville, kota tempat kelahiran dua Presiden terdahulu Amerika Serikat, Thomas Jefferson dan James Monroe.

Mereka yang memprotes terdiri dari “ormas” Klu Klux Klan (KKK) dan Nazi Baru serta yang orang kulit putih asli yang lahir di tanah Amerika.

Sementara Steve Bannon, dikenal sebagai orang yang sangat berperan dan berpengaruh dibalik semua kebijakan Donald yang anti-Islam dan kulit berwarna (hitam, sawo matang sepeti Indonesia) dan ras yahudi.

Sejauh yang bisa ditasirkan dari “Breaking News” CNN, pemecatan Steve Bannon, mendapat sambutan positif dari masyarakat Amerika.

Hal ini tercermin dari reaksi tokoh-tokoh Partai Republik, partai pemerintah atau yang mendukung Donald Trump, apalagi dari kalangan Partai Demokrat.

Disambut positif, sebab Steve Bannon dikenal orang pertama yang direkrut oleh Donald Trump sebagai anggota ‘kabinet’nya. Dan selama tujuh bulan Trump menjadi Presiden, pemerintahannya tak pernah sepi dari berbagai krisis.

Krisis terakhir, ketika Amerika – Korea Utara terlibat dalam ‘perang urat syaraf’. Dalam krisis ini Presiden Kim Jong-Un (34 tahun) mengancam akan menghancurkan Guam, salah satu wilayah Amerika di gugus kepulauan Sumadera Pasifik.

Setelah hampir semua pakar diplomasi Amerika turun tangan, Korut akhirnya membatalkan ancaman tersebut.

Tetapi hal ini tetap menyisakan kritik, bahwa semua krisis di pemerintahan Trump, disebabkan oleh “pembisik” berpengaruh Steve Bannon.

Yang mengejutkan, setelah Bannon dipecat, dia langsung kembali bekerja untuk “Breidbart”, media on-line. Media yang selama ini dia jadikan sebagai alat perjuangan untuk mengembalikan kejayaan Amerika.

Wawancara pertamanya dengan The Weekly Standard, dikutip CNN sebagai mengatakan bahwa ‘Kepresidenan Donald Trump Sudah Berakhir’.

Hal mana semakin menguatkan kesimpulan, selama ini Steve Bannon merasa yang paling mempengaruhi semua kebijakan Donald Trump.

Hari-hari mendatang merupakan momen menarik untuk melihat bagaimana nasib Donald Trump sebagai Presiden. Apakah akan semakin kuat atau melemah.

Setidaknya sudah tiga orang yang terpental dari Kabinet Trump selama berkuasa 7 bulan,

Mereka adalah Direktur FBI James Comey, Jubir Gedung Putih Sean Spicer dan Steve Bannon.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
INTERNASIONAL

Indonesia-Jepang Sepakat Perkuat Transisi Energi dan Industri Hijau

Paris, hotfokus.com Indonesia dan Jepang sepakat mengembangkan transisi energi dan industri hijau...

INTERNASIONAL

Indonesia-Swiss Siapkan Kerja Sama Mineral dan Energi, Penandatanganan Ditargetkan Juni Ini

Jakarta, hotfokus.com Indonesia dan Swiss terus memperkuat hubungan bilateral melalui pembahasan kerja...

Rektor UNM optimistis swasembada pangan Indonesia berlanjut dan menilai sektor pertanian terus menunjukkan kinerja positif.
INTERNASIONAL

Indonesia Kecam Rencana Israel Kuasai 70 Persen Gaza, Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Jakarta, hotfokus.com Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan Indonesia menolak dan mengecam rencana...

Long Stay Priok: Bukan Soal Pelabuhan, tetapi Soal Bisnis
OPINI

Long Stay Priok: Bukan Soal Pelabuhan, tetapi Soal Bisnis

Oleh: Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional Pemerintah telah menetapkan target dwelling...