Jakarta, Hotfokus.com
Pemerintah mulai menggeber langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan mandatori pencampuran bensin dengan bioetanol 10 persen atau E10 berjalan pada 2027.
Bahlil menyampaikan komitmen tersebut di sela kegiatan Donor Darah Hari Jadi Pertambangan ke-81 di Balai Sudirman, Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Bahlil, penerapan bahan bakar campuran bioetanol menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan itu sekaligus diarahkan untuk menekan ketergantungan terhadap impor bensin.
“Kan ini ada road mapnya. Kan baru diputuskan di dalam DEN kemarin. Tugas kami sekarang bersama dengan Dirjen Migas untuk merancang road map-nya. Sebagai contoh, 2027 kita akan menerapkan E10, 2028 kita akan bangun E20, sampai ke depan,” kata Bahlil.
E10 2027, Naik Jadi E20 pada 2028
Pemerintah tidak berhenti pada penerapan E10. Setelah mandatori campuran bioetanol 10 persen berjalan pada 2027, pemerintah menargetkan pemanfaatan E20 pada 2028.
Bahlil mengatakan tahapan tersebut mengikuti peta jalan yang disusun Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas). Arah kebijakan itu juga mengikuti keputusan Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 17 September 2026.
Dengan skema bertahap tersebut, penggunaan bioetanol dalam bensin akan terus ditingkatkan. Pemerintah menempatkan pengembangan bahan bakar berbasis etanol sebagai bagian dari agenda ketahanan energi.
Target Akhir Bioetanol E50
Lebih jauh, pemerintah membidik pengembangan bioetanol hingga E50. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah mengandalkan bahan baku domestik seperti tebu, singkong, dan jagung.
Bahan-bahan tersebut akan diproses menjadi etanol yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar. Selain mendukung kebutuhan energi, pengembangan bioetanol juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru.
“E50 ini kan bahan bakunya adalah etanol. Etanol bahan bakunya dari tebu, singkong, jagung yang di-processing, kemudian bisa melahirkan etanol dan ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan membangun pertumbuhan kawasan di daerah-daerah,” pungkas Bahlil.

Jika tahapan tersebut berjalan sesuai peta jalan, penggunaan bioetanol dalam bensin akan meningkat dari E10 pada 2027 menuju E20 pada 2028 dan berlanjut hingga target E50. (MK/GIT)
Leave a comment