Home OPINI Greenflation Sakit Kepala
OPINI

Greenflation Sakit Kepala

Share
Greenflation Sakit Kepala
Salamuddin Daeng
Share

Oleh : Salamuddin Daeng

Saya tidak nonton debat semalam, karena sejak sore saya sakit kepala. Tapi saya kaget pagi saya lihat di video Mahfud Md menolak menjawab pertanyaan Gibran Rakabuming Raka soal greenflation. Mahfud menyebut itu pertanyaan receh. Padahal itu pertanyaan paling penting dalam isue transisi energi, masalah yang paling sering dipertanyakkan, masalah yang paling sering dipersoalkan. Apa lagi kalau bukan masalah energi hijau yang masih mahal.

Setiap orang yang mau melakukan investasi dibidang listrik hijau pertanyaan kunci yang disampaikan adalah berapa harganya? Berapa harga jual listrik tersebut? Karena umumnya harga listrik hijau ini relatif mahal maka harga jualnya harus sesuai dengan kemampuan beli PLN dan kemampuan rakyat indonesia untuk membeli listrik. Tidak hanya di listrik, namun transisi energi ke BBM hijau juga menjadikan masalah harga BBM hijau sebagai kunci jawabannya.

Jika transisi energi ke energi hijau dilanjutkan, maka setelah itu harga energi menjadi naik baik harga listrik maupun BBM, atau para investornya meminta harga yang bagus atas energi hijau yang mereka hasilkan, sehingga pemerintah mengambil langkah menaikkan harga untuk mendorong masuknya investasi maka itu akan membawa akibat greenflation atau kenaikan harga harga disebabkan oleh transisi ke energi hijau.

Mendengar Pak Mahfud menolak menjawab pertanyaan soal inflasi hijau atau greenflation, membuat saya tambah sakit kepala. Padahal ini adalah masalah kunci masalah inti yang dihadapi semua negara terkait transisi energi. Mengapa ? Karena energi hijau itu masih mahal. Sebagai contoh pembangkit listrik tenaga panas bumi lebih mahal dari pembangkit listrik tenaga batubara. Maka greenflation atau inflasi hijau itu adalah masalah inti dalam isue perubahan iklim atau isue transisi energi atau isue penurunan emisi. Transisi energi ke energi hijau bisa membuat harga harga barang naik atau mengakibatkan terjadinya inflasi hijau.

Oleh karenanya transisi energi ke energi hijau harus didukung kebijakan lainnya, misalnya dukungan anggaran APBN, dukungan suku bunga bank yang murah, dukungan perijinan yang mudah, dan berbagai insentif yang bisa memurahkan biaya investasi hijau. Dan inilah yang harus dijawab oleh Mahfud MD semalam, sehingga tidak membuat Gibran bingung mencari jawabannya.

Tapi muncul pertanyaan dihati saya apakah selama ini pak Jokowi tidak pernah mangajak Pak Mahfud dalam berbagai agenda perubahan iklim yang dipimpin Indonesia, misal dalam G20 presidency, atau di Just Energy Transition Partnership (JETP), atau selama ini Mahfud tidak lagi mau membaca tema tema perubahan saat ini. Padahal kata sri Mulyani transisi energi dampaknya jauh lebih ganas dari covid 19. Tapi ini memang pertanyaan sulit dari mas Gibran, mau bagaina lagi? Pertanyaan ini sangat penting dalam isue perubahan iklim. [•]

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
OPINI

Program 3 Juta Rumah Harus Menjadi Gerakan Nasional Bukan Sekedar Program Kementerian

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) Komitmen Presiden Prabowo Subianto...

Ketika Kampus Negeri Mulai Bertanya: “Anda Pintar, Tapi Sanggup Bayar?
OPINI

Ketika Kampus Negeri Mulai Bertanya: “Anda Pintar, Tapi Sanggup Bayar?”.

Oleh : Andi N Sommeng Dulu, kampus negeri adalah tangga sosial. Anak...

Long Stay Priok: Bukan Soal Pelabuhan, tetapi Soal Bisnis
OPINI

Long Stay Priok: Bukan Soal Pelabuhan, tetapi Soal Bisnis

Oleh: Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional Pemerintah telah menetapkan target dwelling...

OPINI

Angkutan Barang Kereta Api vs Truk

Oleh : Bambang Sabekti “Perspektif Efisiensi Nasional, Keselamatan, dan Keberlanjutan Infrastruktur” Selama...