Jakarta, hotfokus.com
Sepertinya pemerintah tetap memacu roda ekonomi tetap berputar serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini terlihat dari desain kebijakan fiskal yang disiapkan pemerintah dalam RAPBN 2027.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkap pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi 2027 pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen. Ini pondasi krusial menuju target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen yang dicanangkan pada 2029 mendatang.
Untuk menopang gerak roda ekonomi,pemerintah menyiapkan sejumlah indikator asumsi makro fiskal 2027. Inflasi akan dijaga ketat dikisaran 1,5 hingga 3,5 persen. Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di angka Rp16.800 sampai Rp17.500/dolar AS. Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun diproyeksikan dikisaran 6,5-7,3 persen.
“Kemudian, asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada rentang 70-95 dolar AS per barel,” kata Purbaya, saat Rapat Paripurna di Gedung DPR Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Lalu, defisit anggaran 1,8-2,4 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Angka defisit ini ditopang target pendapatan negara sebesar 11,82 sampai 12,40 persen PDB, dengan alokasi belanja negara pada kisaran 13,62 persen hingga 14,80 persen PDB.
Guna mendorong efek ganda (multiplier effect) yang kuat terhadap sektor riil, anggaran belanja pemerintah akan difokuskan untuk membiayai delapan kluster program prioritas nasional dan satu pendukung (enabler) yang terbagi ke dalam 60 program kerja.

Delapan kluster tersebut meliputi kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur perumahan dan ketahanan bencana serta penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa dan penurunan kemiskinan. (bi)
Leave a comment