Lombok, Hotfokus.com
Demam MotoGP Mandalika tak hanya menyedot perhatian penggemar balap, tetapi juga menggerakkan bisnis penginapan milik warga. Sejumlah homestay di Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menikmati lonjakan pemesanan hingga berani mematok tarif kamar Rp2 juta per malam selama Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 pada 9–11 Oktober.
Tingginya permintaan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan. Bahkan, kamar yang ditawarkan dengan harga lebih tinggi selama ajang balap internasional itu tetap habis terjual.
Dani, perwakilan Mango Room Mandalika, mengatakan harga kamar di tempatnya yang biasanya berkisar Rp600 ribu per malam meningkat menjadi Rp2 juta ketika MotoGP berlangsung. Meski tarifnya naik cukup tajam, seluruh kamar berhasil terjual.
“Walaupun event-nya hanya tiga hari, kami bisa menjualnya mungkin tiga kali lipat. Kami menjual dengan harga Rp2 juta per malam dan itu laku semua,” kata Dani.
Lonjakan ini memperlihatkan besarnya peluang ekonomi yang muncul ketika ribuan wisatawan datang ke kawasan sekitar Pertamina Mandalika International Circuit. Pelaku usaha penginapan menjadi salah satu pihak yang merasakan langsung dampak meningkatnya kunjungan tersebut.
Permintaan Membludak, Tarif Penginapan Ikut Menyesuaikan
Peningkatan bisnis juga dirasakan Mong Bungalows. Pengelolanya, Bani, menyebut jumlah tamu yang memesan kamar meningkat signifikan dalam sepekan terakhir, meskipun Oktober biasanya menjadi periode ketika aktivitas pariwisata mulai melambat.
Dalam kondisi normal, Mong Bungalows menawarkan kamar dengan tarif Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per malam, bergantung pada musim. Namun, tingginya permintaan selama penyelenggaraan MotoGP mendorong pengelola menyesuaikan harga.
Bani mengatakan kenaikan pemesanan tidak hanya terjadi di tempat usahanya, tetapi juga dirasakan pengelola penginapan lain di kawasan Kuta dan sekitarnya.
“Dengan adanya Pertamina Grand Prix Of Indonesia ini karena demand yang begitu banyak, jadi kita menaikkan sedikit harga dari harga pada umumnya. Dalam satu minggu terakhir ini peningkatan jumlah okupansi pada homestay sangat tinggi untuk seluruh wilayah Kuta dan sekitarnya,” ujar Bani.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ajang olahraga internasional mampu membuka kesempatan usaha bagi masyarakat setempat. Namun, peluang itu juga membutuhkan kesiapan pengelola agar wisatawan memperoleh pelayanan yang memadai.
Pertamina Turun Tangan, Warga Dapat Pelatihan Hospitality
Untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha lokal, Pertamina menggandeng Universitas Mataram (Unram) dalam program pelatihan hospitality, pengelolaan homestay, dan bahasa Inggris. Program ini dirancang untuk membantu warga meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mengelola bisnis akomodasi secara lebih profesional.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan bahwa perusahaan ingin memastikan perkembangan sport tourism di Mandalika turut memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sirkuit.
Menurut Arya, upaya pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyasar sektor penginapan. Pertamina juga membantu warga mengembangkan kemampuan mengelola sampah sekaligus meningkatkan pelayanan kepada wisatawan.
“Kita melihat ada beberapa kegiatan. Yang pertama adalah kita membantu memberdayakan masyarakat untuk bisa mengelola sampah. Kemudian yang kedua adalah bagaimana masyarakat di sini bisa membantu melayani wisatawan dengan baik,” ujar Arya.
Langkah tersebut diharapkan membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penonton ketika Mandalika menggelar acara berskala internasional. Dengan keterampilan yang lebih baik, warga dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai bisnis pariwisata.
Pengelolaan Sampah hingga Energi Surya Jadi Perhatian
Selain meningkatkan kemampuan pengelola penginapan, Pertamina turut mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui bank sampah. Warga dapat mengolah sampah anorganik menjadi produk kerajinan dan tas, sementara sampah organik dimanfaatkan sebagai pupuk.
Pertamina juga mendukung kegiatan pengumpulan sampah dengan menyediakan sepeda motor listrik. Kendaraan tersebut memanfaatkan dukungan energi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang berada di Balai Desa Kuta.

Dukungan itu terintegrasi dengan rumah baterai berkapasitas 20 kWh melalui program Desa Energi Berdikari. Inisiatif ini menghubungkan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan upaya pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan energi bersih.
Dengan demikian, pengembangan pariwisata Mandalika tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah wisatawan. Masyarakat juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha sekaligus membangun lingkungan yang lebih terkelola.
Bukan Cuma Tiga Hari, Peluang Bisnis Bisa Berlanjut
Pertamina menilai peningkatan kapasitas warga menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi tidak berhenti ketika MotoGP selesai. Sebab, wisatawan tetap berkunjung ke Mandalika di luar periode penyelenggaraan balapan.
Arya mengatakan masyarakat perlu memanfaatkan arus kunjungan wisatawan sepanjang tahun dengan menawarkan layanan dan pengalaman yang menarik. Karena itu, pelatihan dan edukasi menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan warga menghadapi peluang pariwisata.
“Event tahunan ini tidak setiap hari, tapi turis yang datang ke sini kan setiap hari. Artinya mereka juga bisa mengelola itu menjadi hal yang menarik. Nah, ini yang tentunya kita latih dan kita edukasi sekarang,” tuturnya.
Bagi Bani, peningkatan keterampilan tersebut membantu pemilik homestay memperbaiki standar pelayanan dan tata kelola usaha. Pelatihan juga membuka kesempatan bagi pengusaha yang tidak memiliki latar belakang pendidikan pariwisata untuk meningkatkan profesionalisme.
Sementara itu, Dani melihat bertambahnya akomodasi di Kuta Mandalika turut menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk setempat. Manfaatnya menjangkau pekerja penginapan, pelaku kuliner, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga penyedia jasa lainnya.
Dani menegaskan bahwa seluruh pekerja di tempat usahanya berasal dari masyarakat lokal. Ia berharap penyelenggaraan MotoGP dapat terus berlanjut setiap tahun sehingga warga tetap memperoleh manfaat ekonomi dari perkembangan pariwisata Mandalika.
“Semua pekerja kami pekerja lokal. Dengan adanya banyak akomodasi yang tercipta di Kuta Mandalika ini, kami berterima kasih karena sudah menyediakan wadah untuk kami bekerja. Semoga gelaran balapan ini bisa terus ada setiap tahunnya agar kita juga mendapat dampak ekonomi yang baik,” tutupnya.
Tingginya permintaan kamar selama MotoGP 2026 menjadi gambaran bagaimana agenda olahraga internasional dapat menggerakkan usaha masyarakat di sekitar Mandalika. Dengan peningkatan keterampilan, pelayanan yang lebih baik, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, warga memiliki peluang untuk menjaga manfaat ekonomi tersebut tetap berjalan setelah sorotan balapan mereda. (*)
Leave a comment