Aceh Tamiang, Hotfokus.com
Banjir besar sempat melumpuhkan kegiatan produksi minyak Pertamina EP Rantau Field. Namun, setelah melewati serangkaian pemulihan selama empat bulan, perusahaan kini kembali memperkuat operasi dengan memulai pengeboran lima sumur baru di Aceh Tamiang.
Produksi minyak PEP Rantau Field kini bertahan di level 1.700 barel per hari. Bahkan, pada Mei dan Agustus 2026, produksinya sempat menyentuh 2.000 barel per hari, melampaui capaian sebelum banjir.
Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan perusahaan terus menjalankan pengeboran meski pemulihan pascabencana masih berlangsung. Upaya tersebut bertujuan menemukan cadangan baru sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.
“Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional,” ujar Tomi.
Lima Titik Pengeboran Jadi Andalan Baru
PEP Rantau menjalankan pengeboran di dua desa di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Di Desa Tanjung Seumantoh, perusahaan menggarap sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 menggunakan Rig APS-752 dengan kapasitas 550 HP.

Kedua sumur tersebut memiliki kedalaman akhir masing-masing 1.145 MMD dan 1.037 MMD. Sementara itu, di Desa Paya Meta, perusahaan mengebor sumur RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33.
Sumur RNT DZ-11 menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP dengan kedalaman akhir 1.132 MMD. Adapun pengeboran dua sumur lainnya masih berlangsung.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi PEP Rantau untuk mempertahankan kinerja produksi sekaligus mendukung ketahanan energi Indonesia. Dalam menjalankan kegiatan operasional, perusahaan juga mengacu pada prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG.
Banjir Rusak Fasilitas, Listrik Jadi Penentu Pemulihan
Bencana banjir pada akhir November 2025 membawa dampak besar terhadap wilayah kerja perusahaan. Ketinggian air mencapai sekitar 4–4,5 meter, sedangkan endapan lumpur berkisar 30–80 sentimeter hingga merusak fasilitas produksi, kantor, dan permukiman pekerja.
Kerusakan pembangkit listrik turut menghentikan kegiatan produksi. Gangguan listrik juga membuat instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) tidak dapat bekerja optimal karena pompa kehilangan daya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim PEP Rantau mencari alternatif pasokan gas bagi pembangkit listrik. Mereka memodifikasi SP-5 agar dapat mengambil alih fungsi High Pressure Compressor Station (HPCS) yang rusak berat akibat banjir.
Kini, SP-5 dan SP-1 memasok gas untuk mendukung pembangkit listrik. Pemulihan kelistrikan tersebut membantu perusahaan menghidupkan kembali fasilitas dan menaikkan produksi secara bertahap.
“Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik,” kata Tomi.
Solidaritas Antarwilayah Percepat Kebangkitan
Pemulihan fasilitas Rantau juga mendapat dukungan personel dari sejumlah wilayah operasi Pertamina, termasuk Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, dan Ramba. Bantuan lintas wilayah itu mempercepat pekerjaan yang sebelumnya diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun.
“Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu,” ujar Tomi.
Atas keberhasilan mempercepat pemulihan produksi pascabanjir, SKK Migas memberikan penghargaan kepada PEP Rantau Field pada 8 April 2026. Perusahaan juga memastikan pekerja di lokasi pengeboran memenuhi persyaratan keselamatan melalui pelatihan Basic HSSE Training, Corporate Life Saving Rules, dan Pertamina Well Control.
Kini, pengeboran lima sumur baru menjadi langkah lanjutan PEP Rantau setelah melewati salah satu tantangan operasional terbesarnya. Perusahaan berupaya menjaga produksi tetap stabil sekaligus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh Tamiang. (***)
Leave a comment