Home NASIONAL Lima Tahun Pelindo: Tidak Perlu Menjadi Singapura, tetapi Perlu Berpikir seperti Singapura
NASIONAL

Lima Tahun Pelindo: Tidak Perlu Menjadi Singapura, tetapi Perlu Berpikir seperti Singapura

Share
Lima Tahun Pelindo: Tidak Perlu Menjadi Singapura, tetapi Perlu Berpikir seperti Singapura
Share

Jakarta,Hotfokus.com

Lima tahun setelah Pelindo I, II, III, dan IV digabung menjadi satu perusahaan, Pelindo dinilai perlu menaikkan ukuran keberhasilannya. Konsolidasi perusahaan tidak boleh berhenti pada penyatuan organisasi, aset, dan sistem, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata yang dirasakan pengguna jasa.

Pandangan tersebut disampaikan Bambang Sabekti, Praktisi Maritim dan Logistik Nasional, yang menilai tantangan Pelindo ke depan bukan sekadar mengejar pertumbuhan volume bongkar muat, pendapatan, maupun aset, melainkan membangun ekosistem pelabuhan dan logistik yang lebih sederhana, cepat, pasti, dan efisien.

“Pelindo tidak perlu menjadi Singapura. Tetapi Pelindo perlu berpikir seperti Singapura,” ujar Bambang.

Menurutnya, membandingkan Pelindo secara langsung dengan pelabuhan Singapura tidak sepenuhnya tepat karena karakter keduanya berbeda. Singapura berfungsi sebagai salah satu pusat transshipment dunia, sedangkan Pelindo memiliki mandat yang jauh lebih luas sebagai bagian penting dari konektivitas dan distribusi logistik Indonesia yang wilayahnya sangat luas dan tersebar.

Karena itu, kata Bambang, yang perlu dipelajari dari Singapura bukan semata-mata jumlah peti kemas atau kecanggihan teknologinya, tetapi cara membangun pelabuhan sebagai bagian dari ekosistem maritim.

“Pelabuhan jangan hanya dipandang sebagai tempat kapal bersandar dan peti kemas dipindahkan. Pelabuhan harus menjadi simpul yang membuat seluruh rantai logistik bekerja lebih efisien,” tegasnya.

Bambang mengatakan, lima tahun pertama Pelindo dapat dipandang sebagai fase menyatukan empat perusahaan pelabuhan. Namun, lima tahun berikutnya harus menjadi fase menyatukan kualitas layanan.

Sebab, bagi perusahaan pelayaran maupun pemilik barang, merger empat Pelindo bukan persoalan utama. Yang mereka rasakan adalah berapa lama kapal menunggu, berapa lama kapal berada di pelabuhan, kapan peti kemas dapat keluar, serta berapa lama truk menyelesaikan proses di terminal.

“Ukuran keberhasilan merger harus naik kelas. Jangan hanya melihat volume, aset, dan pendapatan. Ukurannya harus semakin dekat dengan kepentingan pengguna jasa: waktu lebih singkat, proses lebih sederhana, biaya lebih efisien, dan layanan yang bisa diprediksi,” katanya.

Menurut Bambang, Pelindo sebenarnya telah memiliki fondasi digital melalui berbagai sistem seperti Terminal Operating System, Phinnisi, dan pusat kendali terpadu. Namun, digitalisasi tidak otomatis berarti integrasi.

Persoalannya, berbagai sistem dan lembaga yang terlibat dalam rantai logistik masih perlu dibuat semakin interoperabel. Pengguna jasa, menurut dia, jangan dipaksa memasukkan data yang sama berulang kali hanya karena harus berhadapan dengan institusi yang berbeda.

“Indonesia tidak kekurangan aplikasi. Yang dibutuhkan adalah ekosistem digital yang benar-benar saling berbicara,” ujarnya.

Bambang juga mengingatkan bahwa efisiensi pelabuhan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada Pelindo. Jalan, kereta api, bea cukai, karantina, kawasan industri, perusahaan pelayaran, angkutan darat, hingga pemilik barang merupakan bagian dari rantai yang sama.

Karena itu, indikator kinerja harus mulai bergeser dari sekadar produktivitas terminal menuju kepastian waktu logistik. Waktu tunggu kapal, waktu tinggal peti kemas, dan waktu putar truk harus menjadi indikator yang terus ditekan.

“Terminal yang produktif tidak akan banyak berarti jika barang tetap tertahan di mata rantai berikutnya,” kata Bambang.

Ia menambahkan, Indonesia tidak membutuhkan model Singapura secara mentah. Dengan karakter geografis yang berbeda, setiap pelabuhan harus memiliki pendekatan sesuai wilayah dan arus barangnya. Namun, standar layanan, kualitas data, integrasi informasi, dan prinsip efisiensinya harus semakin seragam.

“Lima tahun pertama adalah menyatukan perusahaan. Lima tahun berikutnya harus menyatukan layanan dan menghubungkan ekosistem. Kalau itu berhasil, manfaat merger tidak hanya terlihat dalam laporan keuangan Pelindo, tetapi dirasakan langsung oleh dunia usaha dan masyarakat melalui logistik yang lebih cepat, sederhana, efisien, dan pasti,” pungkas Bambang.(ebs)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Medco Raup Laba USD275 Juta, Tapi Gas Justru Jadi Kunci Besarnya
NASIONAL

Medco Raup Laba USD275 Juta, Tapi Gas Justru Jadi Kunci Besarnya

Jakarta, Hotfokus.com PT Medco Energi Internasional Tbk mencatat kinerja kuat sepanjang semester...

Logistik Indonesia Makin Ngebut! PDB Diproyeksi Tembus Rp1.713 Triliun pada 2027
NASIONAL

Logistik Indonesia Makin Ngebut! PDB Diproyeksi Tembus Rp1.713 Triliun pada 2027

Jakarta, Hotfokus.com Sektor transportasi dan pergudangan Indonesia diproyeksikan terus melaju pada 2027....

Ribuan Nakes & Ratusan Ribu Logistik Medis Disiapkan, Buat Apa?
NASIONAL

Ribuan Nakes & Ratusan Ribu Logistik Medis Disiapkan, Buat Apa?

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat merespons ancaman kesehatan...

Eksekusi Eks Hotel Anggrek Ambon Memanas, KAT Soroti Tanah, Sertifikat hingga Dugaan Dokumen Palsu
NASIONAL

Eksekusi Eks Hotel Anggrek Ambon Memanas, KAT Soroti Tanah, Sertifikat hingga Dugaan Dokumen Palsu

Ambon, Hotfokus.com Rencana eksekusi lahan eks Hotel Anggrek di kawasan Batu Gajah,...