Jakarta, hotfokus.com
Gangguan rantai pasok global mulai memukul sektor industri di dalam negeri. Ketersediaan bahan baku terganggu, sementara harga melonjak tajam, terutama pada komoditas plastik.
Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengungkapkan, harga plastik domestik sudah naik hingga 50–100%. Lonjakan ini mencerminkan tersendatnya pasokan bahan baku impor yang selama ini menjadi penopang utama industri manufaktur.
“Kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi merupakan sinyal awal dari krisis stok bahan baku,” ujar Setijadi, Senin (20/04/2026).
Ia menambahkan, tekanan tidak hanya terjadi pada plastik. Sejumlah bahan lain seperti sulfur, acid, aluminium, hingga helium juga ikut terdampak. Material tersebut memiliki peran penting dalam industri kimia, manufaktur, hingga teknologi tinggi.
“Banyak dari material tersebut sulit disubstitusi dalam jangka pendek, sehingga berdampak langsung pada proses produksi,” jelasnya.
Ketergantungan tinggi terhadap impor memperparah situasi. Lebih dari 70% kebutuhan bahan baku industri nasional masih berasal dari luar negeri, terutama di sektor kimia dan petrokimia.
Setijadi menegaskan, gangguan pasokan global berpotensi memicu keterlambatan bahan baku, menekan kapasitas produksi, serta meningkatkan biaya input industri. Kondisi ini bahkan mengarah pada fenomena multi-material shortage, di mana berbagai bahan baku mengalami gangguan secara bersamaan.

Jika berlanjut, tekanan tersebut bisa mengganggu kesinambungan produksi dan menurunkan utilisasi pabrik di berbagai sektor. (SA/GIT)
Leave a comment