Jakarta, hotfokus.com
Pemerintah akhirnya tancap gas. Indonesia resmi melepas ekspor perdana beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Premium sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memimpin langsung pelepasan di Gudang Perum BULOG, Rabu (4/3/2026).
Langkah ini bukan sekadar seremoni. Pemerintah ingin menunjukkan bahwa stok nasional kuat dan produksi dalam negeri mampu menembus pasar ekspor.
“Ini adalah ekspor perdana ke Saudi Arabia. Ini adalah momentum yang baik karena produksi kita. Stok kita hari ini 3,7 juta ton dan di bulan Maret itu terbesar sepanjang sejarah stok kita di bulan Maret. Nah ini kita ekspor,” ujar Amran.
Stok 3,7 Juta Ton, Pemerintah Langsung Ekspor
Amran menegaskan bahwa ekspor tahap awal ini mencapai 2.280 ton dengan nilai sekitar Rp38 miliar. Ia bahkan menekankan angka tersebut bukan sekadar simbolis.
“Nah ini 2.280 ton, 2.000 ya bukan 1.000 ton ya ini aksi nyata bukan ilusi kita kirim 2000 jadi bukan 1000 ton,” tegasnya.
Menurutnya, stok beras nasional saat ini menyentuh 3,7 juta ton—angka tertinggi sepanjang sejarah untuk periode Maret. Karena itu, pemerintah memanfaatkan momentum surplus produksi untuk memperluas pasar.
Bidik Pasar Haji hingga 50 Ribu Ton per Tahun
Ekspor perdana ini menyasar kebutuhan beras bagi sekitar 215 ribu jamaah haji Indonesia di Arab Saudi. Namun peluangnya jauh lebih besar. Pasar juga mencakup jamaah umrah dan mukimin Indonesia yang jumlahnya mencapai sekitar 2 juta orang per tahun.
Amran memperkirakan kebutuhan beras untuk jamaah haji Indonesia di Arab Saudi saja bisa mencapai 20 ribu hingga 50 ribu ton per tahun.
“Mudah-mudahan ke depan ekspor bisa kita tingkatkan. Khusus untuk kebutuhan jamaah haji Indonesia di Saudi Arabia saja diperkirakan antara 20 hingga 50 ribu ton,” ujarnya.
Papua Nugini hingga Filipina Masuk Radar
Selain Arab Saudi, pemerintah juga menjajaki peluang ekspor beras ke Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina. Artinya, pasar internasional mulai terbuka lebar bagi beras Indonesia, terutama di tengah stok domestik yang melimpah.

Dengan ekspor perdana CBP Premium ini, pemerintah ingin memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen beras yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga siap bersaing di pasar global.
Momentum sudah ada. Produksi tersedia. Pertanyaannya sekarang: seberapa cepat Indonesia bisa memperluas ekspor beras ke pasar internasional berikutnya? (SA/GIT)
Leave a comment