Jakarta, hotfokus.com
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen (year-on-year). Angka ini menunjukkan daya tahan ekonomi nasional masih cukup solid di tengah berbagai tekanan.
Namun, Supply Chain Indonesia (SCI) melihat ada sinyal yang perlu diwaspadai. Secara triwulanan (q-to-q), ekonomi justru mengalami kontraksi 0,77 persen. Kondisi ini menandakan kualitas pertumbuhan perlu diperkuat agar tidak bergantung pada faktor musiman dan konsumsi domestik.
Founder & CEO SCI, Setijadi, menilai sektor transportasi dan pergudangan tumbuh lebih cepat dibanding ekonomi nasional. Artinya, aktivitas logistik kini menjadi motor penting dalam mendorong pertumbuhan.
Meski begitu, ia menegaskan peningkatan aktivitas logistik harus diiringi langkah konkret. Mulai dari efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, integrasi antarmoda, hingga digitalisasi rantai pasok.
SCI juga mendorong pemerintah memperkuat konektivitas logistik dari sentra produksi ke pasar dan pelabuhan. Selain itu, percepatan digitalisasi layanan logistik dan pengembangan pusat konsolidasi barang di luar Pulau Jawa dinilai krusial.
Langkah ini penting karena struktur ekonomi Indonesia masih terkonsentrasi di Jawa dengan kontribusi 57,24 persen. Sementara itu, wilayah Bali-Nusa Tenggara dan Sulawesi justru mencatat pertumbuhan tinggi masing-masing 7,93 persen dan 6,95 persen.

Dengan strategi logistik yang lebih efisien dan terintegrasi, pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak hanya kuat, tetapi juga merata di seluruh wilayah. (SA/GIT)
Leave a comment