Houston, Hotfokus.com
Indonesia semakin agresif menarik minat investor global di sektor hulu migas. Dalam forum Offshore Technology Conference (OTC) 2026 di Houston, pemerintah dan pelaku industri menonjolkan potensi energi nasional yang masih luas dan belum tergarap optimal.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Susilo, menegaskan pemerintah terus membenahi iklim investasi. Ia menyoroti penguatan regulasi, kepastian hukum, serta kesiapan wilayah kerja migas, termasuk proyek strategis seperti Abadi Masela.
Dari sisi sumber daya, peluang yang ditawarkan tergolong besar. SKK Migas mencatat dari total 128 cekungan migas, baru 20 yang berproduksi. Sebanyak 43 masih tahap eksplorasi, sementara 65 lainnya belum tersentuh.
“Dengan potensi mencapai 2,7 miliar barel minyak dan 39,35 TCF gas, serta 158 blok migas yang tersedia, Indonesia menawarkan peluang investasi yang nyata dengan sistem yang semakin kompetitif dan ramah investor,” ujar Wilson Pariangan dari SKK Migas.

Pertamina memperkuat narasi tersebut lewat bukti kinerja di lapangan. Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menegaskan Indonesia tidak hanya menawarkan potensi, tetapi juga kesiapan eksekusi.
“Indonesia adalah frontier energy opportunity yang belum sepenuhnya tergarap, dan saat ini adalah momentum terbaik bagi investor untuk masuk. Kami tidak hanya bicara potensi, tetapi juga eksekusi,” tegasnya.
Sepanjang 2025, Pertamina mengebor 20 sumur eksplorasi dan menemukan delapan cadangan baru. Perusahaan juga mengandalkan survei seismik 2.931 km (2D) dan 855 km² (3D) untuk meningkatkan akurasi.
Selain eksplorasi baru, peluang investasi juga terbuka di lapangan eksisting melalui teknologi seperti Chemical EOR dan Thermal EOR, termasuk pengembangan Blok Rokan.
“Kami membuka peluang kolaborasi seluas luasnya bagi technology providers,” kata Oki. (*)
Leave a comment