Balikpapan, hotfokus.com
Pemerintah mengungkap transformasi ekonomi hijau berkelanjutan akan melesat, jika didukung ekonomi makro yang kuat.
“Ambisi besar tersebut tentu membutuhkan landasan ekonomi makro yang kokoh agar transformasi ini dapat berjalan berkelanjutan,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Seminar Nasional: Transisi Energi Berkeadilan dan Peluang Green Jobs Serta Green Economy di Kalimantan Timur di Universitas Balikpapan, Selasa (27/1/2026).
Sebab untuk melaksanakan transformasi menuju ekonomi hijau harus melalui tiga pilar utama, yakni mengembangkan green energy, penguatan green economy serta menciptakan green jobs.
Ini untuk memastikan transisi hijau berjalan inklusif, berkeadilan dan memberi manfaat nyata terhadap ekonomi nasional serta masyarakat.
Selama ini, menko menjelaskan ketahanan ekonomi nasional cukup solid, dengan capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 sebesar 5,04 persen (yoy), dan inflasi per Desember 2025 tetap terkendali di level 2,92 persen (yoy). Sentimen ekonomi domestik juga terjaga positif, tercermin dari IHSG yang sempat mencatat rekor tertinggi, PMI Manufaktur Desember 2025 yang berada di zona ekspansif (51,2) serta Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap optimistis di level 123,5.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 juga mencatat surplus 2,66 miliar dolar AS dengan surplus kumulatif Januari–November 2025 mencapai 38,54 miliar dolar AS dan berlangsung 67 bulan berturut-turut. Realisasi investasi PMA dan PMDN sepanjang 2025 mencapai Rp1.931 kuadriliun atau tumbuh 12 persen (yoy). cadangan devisa juga berada di level tinggi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.
Upaya percepatan transisi energi menjadi langkah nyata Indonesia menuju kedaulatan energi sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang bersih dan berkelanjutan. Dengan dukungan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 3.686 GW, dengan Kalimantan menyumbang sekitar 517 GW yang didominasi energi surya.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah memacu pembangunan green super grid sepanjang sekitar 70 ribu kilometer, pengembangan biofuel B40–B50, serta bahan bakar pesawat ramah lingkungan. (bi)
Leave a comment