Home EKONOMI Idealisme Kenaikan Cukai Rokok Dimata YLKI
EKONOMI

Idealisme Kenaikan Cukai Rokok Dimata YLKI

Share
Tulus Abadi: Menkes Tak Perlu Gamang untuk Implementasikan PP 28/2024
Share

Jakarta, hotfokus.com

Keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok tahun 2022 rata-rata sebesar 12 persen patut diapresiasi. Meski lebih rendah dari tahun lalu sebesar 12,5 persen rata-rata, namun kenaikan tersebut masih sejalan dengan semangat pengendalian peredaran tembakau.

Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), menyatakan bahwa kenaikan cukai rokok sebesar 12 persen adalah keniscayaan regulasi yang juga harus disertai dengan simplikasi (penyederhanaan) sistem cukai rokok. Tulus menambahkan, secara paralel, agar pengendalian rokok dengan instrumen cukai itu benar-benar efektif untuk pengendalian konsumsi, maka harus disertai dengan upaya pengendalian dari sisi pemasaran rokok.

“Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah agar melarang penjualan rokok secara ketengan, atau per batang (single stick sales), sebab penjualan rokok secara ketengan menjadi cara yang paling mudah bagi anak-anak dan remaja untuk membeli rokok,” ujar Tulus dalam konferensi pers virtual, Selasa (14/12/2021).

Dikatakan Tulus bahwa beban ekonomi dan kesehatan secara makro akibat konsumsi rokok oleh negara sangat besar. Setidaknya negara harus menanggung beban biaya kesehatan sebesar Rp17,9 – Rp27,7 triliun selama setahun akibat penyakit akibat rokok (CISDI, 2021).

Tulus menambahkan bahwa kenaikan cukai rokok pada 2022 harusnya bisa lebih tinggi. Dia mencurigai bahwa besaran kenaikan cukai yang lebih moderat inj hanya untuk memenuhi kepentingan ekonomi pemerintah dalam menggenjot penerimaan negara. Artinya selama ini cukai rokok masih belum efektif melindungi konsumen agar tidak semakin besar dalam mengonsumsi rokok.

“Saya melihat ini lebih ke ekonomi interest, artinya kenaikan cukai itu untuk penggalian pendapatan pemerintah. Apalagi, pendapatan pajak masih minim, sehingga pemerintah menggali dari sisi cukai,” kata Tulus.

Prof. Hasbullah Thabrany selaku Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau mengapresiasi langkah pemerintah atas kenaikan cukai dan penyederhanaan golongan tarif cukai 2022. Menurutnya pemerintah tidak boleh takut lagi dengan mitos-mitos kerugian ekonomi ala industri tembakau yang menghambat dinaikkannya cukai rokok.

“Jadi rokok mahal itu sudah seharusnya dilakukan, tak perlu mencari-cari justifikasi untuk menunda kenaikan cukai rokok setiap tahunnya. Jangan lupa kita sedang berinvestasi untuk masa depan,” ulasnya. (DIN)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Ekspor Rajungan Sulit Tembus Pasar AS Tanpa Certificate of Admissible
EKONOMI

Ekspor Rajungan Sulit Tembus Pasar AS Tanpa Certificate of Admissible

Jakarta, hotfokus.com Ekspor rajungan sulit menembus pasar Amerika Serikat (AS), jika pelaku...

EKONOMI

Menkeu: Jaga Ekonomi Tetap Tumbuh Tanpa Bahayakan APBN

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah akan memberi suntikan berupa stimulus ekonomi agar perekonomian tetap...

EKONOMI

Pundi Cadangan Devisa Kian Tebal 156,5 Miliar Dolar AS

Jakarta, hotfokus.com Pundi cadangan devisa (cadev) pemerintah akhir Desember 2025 makin tebal....

PPN DTP dorong pasar properti. Rumah123 catat permintaan hunian baru naik 16,8% sepanjang 2025.
EKONOMI

Marketplace Properti Ungkap Efek Nyata PPN DTP, Permintaan Naik Dua Digit

Jakarta, hotfokus.com Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) kembali membuktikan...