Jakarta, Hotfokus.com
Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai tidak memberi tekanan besar terhadap inflasi. Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut dampaknya cenderung terbatas karena pengguna BBM jenis ini berasal dari kelompok berpendapatan tinggi.
Penyesuaian harga hanya terjadi pada Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite dengan rata-rata kenaikan sekitar Rp 8.367 per liter. Sementara itu, harga Pertamax masih tetap.
Chief Economist and Head of Fixed Income Research Helmy Kristanto menjelaskan, meski BBM nonsubsidi menyumbang 44% konsumsi nasional, dampaknya ke inflasi tidak signifikan. “Produk yang naik paling tajam dikonsumsi segmen berpendapatan lebih tinggi dengan efek rambatan harga yang lebih lemah,” ujarnya dalam riset, Senin (20/4).

Secara historis, kenaikan Rp 1.000 per liter pada BBM kelas atas hanya mendorong inflasi sekitar 0,02–0,15 poin persentase. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dampak penyesuaian BBM subsidi.
“Tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas dan hanya bekerja di sisi marjinal,” tambahnya.
Di sisi lain, dinamika global turut memengaruhi harga energi. Harga minyak Brent sempat turun hampir 10% ke level USD 86 per barel setelah pembukaan sementara Selat Hormuz. Namun, kondisi kembali berbalik setelah Iran menutup jalur tersebut, sehingga harga kembali naik di atas USD 90 per barel. (SA/GIT)
Leave a comment