Jakarta, hotfokus.com
Kota Bekasi bersiap memiliki solusi baru untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus menambah pasokan energi. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) kini memasuki tahap pembangunan setelah PLN menandatangani Sponsors Agreement dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL).
Fasilitas tersebut ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah setiap tahun. Kapasitas itu mencakup sekitar 70% timbulan sampah terolah di Kota Bekasi.
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun tersebut memiliki kapasitas listrik netto 27,4 MW. Produksinya diperkirakan mencapai 223.584 MWh per tahun, setara kebutuhan sekitar 55 ribu rumah tangga berdaya 450 VA.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan listrik hasil pengolahan sampah akan kembali dimanfaatkan masyarakat Bekasi.

“Sampah Kota Bekasi masuk ke sini (PSEL), kemudian listrik yang dihasilkan kita pasok kembali ke Kota Bekasi,” ujar Darmawan.
PSEL Bekasi Pangkas Sampah dan Emisi
Selain menghasilkan energi, fasilitas ini ditargetkan memangkas kebutuhan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga 90%. PSEL Bekasi juga berpotensi mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO₂ setiap tahun.
Proyek tersebut turut membuka peluang sekitar 1.000 lapangan kerja hijau. Pemerintah juga mendorong percepatan pembangunan PSEL dengan menyederhanakan berbagai aturan yang selama ini menghambat pengembangan waste to energy.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai penyederhanaan regulasi menjadi langkah penting agar proyek pengolahan sampah dapat bergerak lebih cepat.
“Dari sini tinggal tiga aturan,” kata Zulkifli.
Darmawan menegaskan bahwa manfaat utama proyek ini bukan sekadar listrik. Menurutnya, PSEL harus menyelesaikan persoalan sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

“Produk utamanya bukan listrik, tapi produk utamanya adalah lingkungan yang bersih. Listrik hanyalah by-product,” tuturnya. (*)
Leave a comment