Lampung, Hotfokus.com
Pemerintah mempercepat pengembangan proyek bioetanol di Lampung sebagai bagian dari langkah konkret memperkuat transisi energi nasional. Proyek ini menggandeng Toyota, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), serta Danantara Investment Management, dengan rencana konstruksi dimulai pada kuartal III 2026.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyampaikan bahwa inisiatif ini bukan proyek baru. Ia menegaskan bahwa persiapan sudah berjalan sejak setahun terakhir, meski tidak dipublikasikan secara luas. “Program ini sebetulnya sudah kita jalankan dari satu tahun yang lalu, tapi memang kami silent dalam pengembangannya,” kata Todotua.
Pemilihan Lampung didasarkan pada kekuatan daerah tersebut dalam menyediakan bahan baku. Komoditas seperti tebu, ubi, dan sorgum menjadi penopang utama dalam produksi bioetanol. Untuk memastikan kesiapan proyek, pemerintah juga telah melakukan berbagai langkah, mulai dari koordinasi lintas instansi hingga penjajakan kerja sama dengan mitra teknologi asal Jepang dan peninjauan langsung lokasi.
Rencana pengembangan dibagi dalam dua tahap. Pada fase awal, produksi ditargetkan mencapai 60 kiloliter per tahun pada 2027. Selanjutnya, kapasitas akan ditingkatkan secara signifikan hingga 60.000 kiloliter per tahun pada 2028 saat memasuki tahap komersial.

Dalam prosesnya, proyek ini akan memanfaatkan teknologi generasi kedua atau 2G dengan pendekatan multi bahan baku. Limbah biomassa dari kelapa sawit, jagung, hingga sorgum akan dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan pasokan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong pengembangan sorgum sebagai bagian dari ekosistem proyek. Penanaman dimulai dari skala kecil seluas 10 hektare pada 2026, lalu diperluas menjadi 6.000 hektare pada 2027.
Di sisi kebijakan, pemerintah telah menyiapkan peta jalan pencampuran bioetanol dalam bahan bakar, mulai dari E5, meningkat ke E10, hingga E20 dalam jangka panjang. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak.
Todotua menekankan bahwa selama satu dekade terakhir, porsi impor BBM masih mencapai sekitar 61%. Kondisi tersebut, ditambah fluktuasi harga minyak global, mendorong pemerintah mempercepat pemanfaatan energi alternatif seperti bioetanol guna memperkuat kemandirian energi nasional. (*)
Leave a comment