JAKARTA, Hotfokus.com
Era kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan listrik Indonesia ikut melonjak. Di tengah tren tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyiapkan panas bumi sebagai sumber listrik baseload untuk menopang pertumbuhan green data center.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengungkapkan rencana itu dalam diskusi “Membangun AI Factory Hub Indonesia” pada The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Data Komdigi dan APJII mencatat Indonesia memiliki 235,26 juta pengguna internet serta 185 fasilitas data center. Jumlah fasilitas tersebut diperkirakan terus bertambah hingga 2029/2030.
Data Center Butuh Listrik Stabil 24 Jam
Pertumbuhan pusat data dan AI menghadirkan tantangan baru bagi sektor energi. Sebab, fasilitas tersebut membutuhkan listrik yang stabil sepanjang waktu sekaligus bersumber dari energi bersih.
Kondisi itu membuat panas bumi punya peluang besar karena mampu memasok listrik sebagai baseload. PGE pun melihat energi domestik tersebut dapat menopang kebutuhan listrik hijau bagi industri pusat data.
“Pusat data membutuhkan listrik yang andal dan hijau sekaligus. Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu,” ujar Ahmad Yani.
PGE telah mengkaji elektrifikasi green data center berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Perusahaan menyiapkannya sebagai pilot project dan proof of concept untuk menguji model bisnis serta kebutuhan calon pengguna.

PGE Dorong Regulasi hingga Green Financing
PGE menilai pengembangan pusat data berbasis energi terbarukan membutuhkan dukungan sejumlah kebijakan. Perusahaan mendorong perbaikan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi.
Selain itu, PGE melihat insentif fiskal dan green financing perlu diperluas. Sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD juga menjadi bagian penting dalam pengembangan proyek.
Langkah tersebut masuk dalam strategi Beyond Electricity PGE. Strategi itu mencakup green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium.
PGE menargetkan kapasitas sekitar 1 GW pada 2028. Selanjutnya, perusahaan membidik sekitar 1,8 GW pada 2034 dengan dukungan portofolio sumber daya sekitar 3 GW.
Panas Bumi Didorong Jadi Mesin Ekonomi
Pengembangan panas bumi juga sejalan dengan agenda swasembada energi pemerintah. RUPTL mengalokasikan 5,2 GW untuk pengembangan panas bumi.
“Ini momentum yang tidak datang dua kali, sehingga harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mengakselerasi pengembangan kapasitas,” kata Ahmad Yani.
Di ajang EBTKE ConEx 2026, PGE juga memborong empat penghargaan bidang panas bumi. PGE Area Ulubelu meraih Juara 2 melalui Geothermal Greenhouse, sedangkan Area Kamojang meraih Juara 3 lewat Geothermal Drytube.
Pada kategori Green Jobs dan pengembangan SDM lokal, Kamojang meraih Juara 1 melalui Geothermal Dryhouse. Sementara itu, Lahendong mendapat Juara 2 lewat Pupuk Booster Katrili.

“Keberhasilan panas bumi tidak hanya diukur dari megawatt yang dihasilkan, tetapi juga dari manfaat ekonomi dan lapangan kerja yang tercipta bagi masyarakat,” tutup Ahmad Yani. (*)
Leave a comment