Bangkok, Hotfokus.com
Pertamina memperkuat strategi ketahanan energi Indonesia dengan mengandalkan portofolio LNG yang lebih fleksibel. Langkah ini memadukan pasokan gas alam cair dari dalam negeri dan luar negeri dengan dukungan infrastruktur gas Pertamina Group.
Pertamina membawa strategi tersebut dalam Gastech 2026 di Bangkok, Thailand. Selain memperluas koneksi dengan industri energi global, forum ini menjadi ruang bagi Pertamina untuk mencari peluang pengembangan portofolio dan bisnis LNG.
Perubahan pasar energi global membuat fleksibilitas pasokan semakin penting. Volatilitas harga, dinamika geopolitik, dan meningkatnya kebutuhan energi menuntut kemampuan mendapatkan pasokan sesuai lokasi, waktu, kebutuhan, serta biaya yang kompetitif.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menegaskan bahwa ketahanan energi tidak sebatas persoalan jumlah pasokan.
“Bagi Pertamina, ketahanan energi bukan hanya mengenai seberapa besar pasokan yang tersedia, tetapi juga kemampuan untuk mendapatkan energi dari sumber yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan biaya yang kompetitif,” ujar Baron.

Pertamina Perluas Sumber LNG
Untuk menjaga ruang gerak dalam memenuhi kebutuhan energi, Pertamina membangun portofolio LNG dari beragam sumber. Selain mengoptimalkan pasokan nasional, perusahaan juga memiliki sumber internasional dari Australia dan Amerika Serikat.
Diversifikasi tersebut memungkinkan Pertamina mengatur sumber dan pola pengiriman LNG mengikuti kebutuhan, situasi pasar, serta pertimbangan keekonomian.
Di sisi lain, Pertamina mengandalkan sejumlah infrastruktur untuk menopang rantai pasok LNG. Aset tersebut mencakup Perta Arun Gas, Nusantara Regas, fasilitas penerimaan LNG Jawa-1, serta jaringan pipa gas PGN di berbagai wilayah Indonesia.
Integrasi seluruh fasilitas membuat pengelolaan LNG lebih fleksibel, mulai dari penerimaan dan penyimpanan hingga regasifikasi serta penyaluran.
“Pertamina memiliki portofolio LNG dan infrastruktur gas yang saling melengkapi. Integrasi dari sumber pasokan, fasilitas penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi hingga jaringan distribusi memberikan fleksibilitas bagi Pertamina,” jelas Baron.
Arun Dibidik Jadi Hub LNG Asia Tenggara
Pertamina juga melihat posisi Perta Arun Gas di Aceh sebagai salah satu aset penting dalam strategi LNG. Berada di kawasan Selat Malaka, fasilitas ini memiliki peluang untuk berkembang menjadi hub LNG regional yang menghubungkan pasokan internasional dengan kebutuhan Indonesia dan pasar Asia Tenggara.
Arun memiliki fleksibilitas untuk menangani berbagai kebutuhan LNG. Fasilitas tersebut dapat mendukung kegiatan penerimaan, penyimpanan, reload, transhipment, regasifikasi hingga distribusi.
Strategi ini menjadi semakin penting ketika kebutuhan LNG domestik berpotensi meningkat di tengah pertumbuhan energi dan industri. Indonesia yang selama ini dikenal sebagai produsen dan eksportir LNG pun menghadapi perubahan kebutuhan di dalam negeri.

Karena itu, Pertamina ingin menghubungkan produksi LNG domestik, pasokan global, infrastruktur nasional, dan kebutuhan regional dalam satu ekosistem yang lebih optimal.
Baron menilai kemampuan mengelola pasokan akan menjadi faktor pembeda Pertamina ke depan.
“Ke depan, yang menjadi pembeda bukan hanya kemampuan memperoleh LNG, tetapi kemampuan mengelola, mengoptimalkan dan menyalurkannya ke tempat yang memberikan manfaat terbesar,” tutup Baron. (*)
Leave a comment