Home EKONOMI Pembentukan BOPN Dinilai Boros, Defiyan Cori Sarankan Perkuat Bappenas
EKONOMINASIONAL

Pembentukan BOPN Dinilai Boros, Defiyan Cori Sarankan Perkuat Bappenas

Share
Pembentukan BOPN Dinilai Boros, Defiyan Cori Sarankan Perkuat Bappenas
Defiyan Cori
Share

Jakarta, Hotfokus.com

Ekonom Konstitusi Defiyan Cori menilai pembentukan Badan Otoritas Penerimaan Negara (BOPN) tidak tepat dan berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran. Kritik ini muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sejumlah kementerian dan lembaga.

Menurut Defiyan, pemisahan fungsi penerimaan dan belanja negara yang menjadi alasan pembentukan BOPN tidak sejalan dengan UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Ia menegaskan bahwa pengelolaan fiskal dan pengeluaran negara merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan hanya dengan alasan dominasi Menteri Keuangan.

“Bahkan meski saya kerap berbeda pandangan dengan Menkeu Sri Mulyani, dalam hal BOPN saya menolak. Pertanyaannya, apa urgensinya lembaga baru ini?” ujar Defiyan Cori.

Alternatif: Perkuat Bappenas dan Integrasi Zakat

Defiyan menilai, bila memang ada kebutuhan pemisahan kewenangan, seharusnya aspek perencanaan dan anggaran melekat pada Bappenas, bukan dengan memisahkan fungsi penerimaan dan belanja negara. Ia juga menyoroti alasan pembentukan BOPN yang disebut untuk memperkuat sistem perpajakan nasional.

Menurutnya, narasi tersebut keliru karena penerimaan negara tidak hanya bersumber dari pajak. Masalah kepatuhan wajib pajak, kata Defiyan, lebih berkaitan dengan penegakan hukum, bukan pembentukan lembaga baru.

“Yang mendesak justru pembubaran Badan Anggaran DPR RI, karena lembaga inilah yang selama ini merusak mekanisme teknokratik perencanaan dan anggaran negara,” tegasnya.

Solusi: Dirjen Penerimaan Negara dan Integrasi Sumber Publik

Sebagai gantinya, Defiyan menyarankan pembentukan Direktorat Jenderal Penerimaan Negara untuk menggantikan Ditjen Pajak dan Ditjen Anggaran. Langkah ini dinilai bisa memulihkan kepercayaan publik terhadap tata kelola keuangan negara.

Ia bahkan mengusulkan agar zakat dan instrumen serupa dari agama lain diintegrasikan dalam penerimaan negara. Dengan demikian, kontribusi publik ditambah pengelolaan sumber daya alam dapat memperkuat kemandirian fiskal sekaligus menekan defisit APBN.

“Jika zakat dan partisipasi publik dikelola negara, kita bisa bukan hanya menutup defisit, tapi juga membangun kemandirian keuangan nasional,” pungkas Defiyan. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
EKONOMI

Naikkan Harga Jual Daging Sapi, Pelaku Usaha Nakal akan Ditindak

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah akan menindak tegas dan terukur terhadap pelaku usaha nakal...

NASIONAL

Selama Puasa, Busana Muslim, Perlengkapan Ibadah serta Alas Kaki Laris Manis

Jakarta, hotfokus.com Kalangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri merasa...

Jasa Marga memprediksi lebih dari 1 juta kendaraan melintas di Tol Trans Jawa saat mudik Lebaran 2026.
NASIONAL

Mudik 2026 Meledak! Lebih dari 1 Juta Kendaraan Diprediksi Padati Tol Trans Jawa

Jakarta, hotfokus.com Arus mudik Lebaran 2026 mulai terasa. PT Jasamarga Transjawa Tol...

Indonesia dan China memperkuat kerja sama perikanan berbasis koperasi untuk meningkatkan kapasitas nelayan dan ketahanan pangan.
EKONOMI

Indonesia–China Teken Kerja Sama Perikanan! Koperasi Nelayan Siap Naik Kelas

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah Indonesia dan China memperkuat kolaborasi di sektor perikanan dan...