Home Uncategorized Kejahatan Demokasi Harus Dilawan
Uncategorized

Kejahatan Demokasi Harus Dilawan

Share
Share

JAKARTA — Kejahatan demokrasi harus dilawan. Perbuatan yang nyata-nyata meracuni demokrasi harus diberangus. Karena itu dalam konteks pesta demokrasi, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memegang peranan penting. Badan pengawas jangan berkompromi dengan kejahatan demokrasi.

Demikian dikatakan analis hukum Pemilu, Benny Sabdo, di Jakarta. Benny juga mengapresiasi Bawaslu yang telah melakukan terobosan “Patroli Pengawasan” di masa tenang Pilkada serentak 2018. Bawaslu sebagai penegak hukum Pemilu sudah semestinya membuat terobosan yang lebih progresif.

“Untuk mewujudkan keadilan pemilu, Bawaslu memiliki peran kunci. Supaya tidak disebut macan kertas, segala kewenangan yang diberikan oleh undang-undang harus diwujudkan secara konkrit,” tegasnya.

Benny menambahkan Bawaslu sebagai penegak hukum Pemilu memegang peranan kunci untuk menjamin Pilkada yang taat asas dan tidak menyimpang dengan norma dasar yang menjadi fondasi utamanya.

Menurutnya, penegakan hukum Pemilu bertujuan untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam proses Pilkada, sekaligus untuk melindungi integritas Pilkada. Karena itu, jajaran Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/Kota ke bawah harus memiliki mental seorang pengawas, tidak cukup hanya paham regulasi.

“Kalau ada dugaan pelanggaran, maka Bawaslu/Panwas harus berani menindak. Meski berisiko, jangan pernah berkompromi pada pelaku kejahatan demokrasi,” katanya.

Lebih lanjut, pengajar Hukum Tata Negara Kampus Merah-Putih Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta itu memaparkan Bawaslu saat ini memiliki Pengawas TPS. Menurut UU No 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, setiap Pengawas Kelurahan dapat dibantu satu orang Pengawas TPS di masing-masing TPS. Menurutnya, peran Pengawas TPS ini menjadi sangat strategis.

“Pengawas TPS dapat mengawasi persiapan pemungutan dan penghitungan suara, mengawasi pelaksaan pemungutan suara, termasuk menyampaikan keberatan dalam hal ditemukannya dugaan pelanggaran, kesalahan atau penyimpangan administrasi pemungutan dan penghitungan suara,” kata Benny.

Benny mengatakan ada masalah klasik setiap hajatan Pilkada, antara lain politik uang, problematika daftar pemilih, mobilisasi pemilih, intimidasi pemilih dan penyalahgunaan formulir C6 (surat pemberitahuan memilih). Bahkan transaksi jual beli suara di tingkat penyelenggara Pilkada. Karena itu, momentum masa tenang harus dilakukan pengawasan melekat oleh Bawaslu.

“Bawaslu harus dapat melakukan pencegahan terhadap segala problematika tersebut, lakukan sosialisasi kepada peserta pilkada dan masyarakat supaya tidak melakukan pelanggaran. Dan, berkoordinasi dengan jajaran KPU untuk mencegah terhadap pelbagai potensi pelanggaran pada hari pemungutan suara tanggal 27 Juni 2018 nanti,” tutur alumni Program Pascasajarna Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu. (kn)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027
Uncategorized

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai menggeber langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin....

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya? Bambang Sabekti Praktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional setiap 4 September menjadi momentum yang menarik bagi Pelindo. Sebab, tidak lama lagi, tepat 1 Oktober 2026, Pelindo memasuki lima tahun sejak merger empat BUMN pelabuhan. Lima tahun bukan lagi sekadar masa transisi. Periode ini sudah cukup untuk melihat apakah integrasi organisasi telah menghasilkan kemampuan operasional dan nilai bisnis yang lebih baik. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah merger Pelindo berhasil menyatukan organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa incremental value setelah Pelindo menjadi satu? Jawabannya perlu dilihat setidaknya dari dua sisi: operational excellence dan customer value. Dalam bisnis pelabuhan, operational excellence tidak cukup dimaknai sebagai meningkatnya produktivitas satu terminal. Pelabuhan merupakan sistem yang melibatkan kapal, terminal, peralatan, tenaga kerja, gate, yard, trucking, serta berbagai proses pelayanan. Operational excellence berarti kemampuan mengelola proses tersebut secara efisien, konsisten, reliable, dan predictable. Kapal membutuhkan kepastian berth. Bongkar muat membutuhkan produktivitas peralatan. Kontainer membutuhkan yard yang dikelola dengan baik. Truk membutuhkan proses gate yang lancar. Pengguna jasa membutuhkan informasi yang akurat dan keputusan operasional yang cepat. Satu titik yang tidak efisien dapat mengurangi manfaat efisiensi pada titik lainnya. Di sinilah merger memberikan peluang besar. Dengan berada dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki kesempatan mengembangkan common operating standard, berbagi best practices, mengoptimalkan aset dan kapasitas, serta menggunakan data dan teknologi secara lebih terintegrasi. Namun, standardisasi bukan tujuan akhir. Bagi pelanggan, salah satu manfaat paling fundamental dari merger seharusnya adalah ease of doing business. Sebelum merger, pengguna jasa berhadapan dengan entitas Pelindo yang berbeda sesuai wilayah dan pelabuhannya. Setelah merger, pelanggan secara logis mengharapkan pengalaman berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih sederhana: standar semakin jelas, proses semakin seragam, akses informasi semakin mudah, dan tidak perlu menghadapi variasi proses yang sebenarnya tidak memberikan nilai tambah. Inilah salah satu acid test merger: APAKAH MENJADI PELANGGAN PELINDO SEKARANG LEBIH MUDAH DARIPADA SEBELUMNYA? Pertanyaan tersebut bukan sekadar soal keramahan pelayanan. Ease of doing business menyangkut waktu, jumlah tahapan, transparansi, kepastian keputusan, kemudahan akses layanan, serta kemampuan pelanggan menyelesaikan urusannya tanpa proses yang berulang. Dengan perspektif yang sama, digitalisasi juga harus diukur dari manfaatnya bagi pelanggan. Keberhasilan digitalisasi bukan berapa banyak aplikasi yang dimiliki, tetapi berapa banyak proses yang menjadi lebih sederhana dan berapa banyak interaksi yang tidak lagi diperlukan pelanggan. Di sinilah operational excellence bertemu dengan customer value. Dalam bisnis kepelabuhanan, customer value dapat dilihat dari hal yang konkret: waktu yang lebih singkat, proses yang lebih sederhana, biaya yang lebih efisien, dan kepastian yang lebih tinggi. Merger juga memberikan peluang untuk mengelola Pelindo sebagai port network, bukan sekadar kumpulan terminal. Dengan jaringan nasional dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan kapasitas antarpelabuhan, berbagi best practices, mengurangi ketidakseimbangan utilisasi, dan memperkuat konektivitas antarkawasan. Namun, network advantage baru menjadi value apabila pelanggan dapat merasakannya dalam bentuk layanan yang lebih baik dan proses bisnis yang lebih mudah. Karena itu, ukuran keberhasilan merger juga harus tetap berada dalam scope Pelindo. Pelindo tidak menentukan surplus atau defisit perdagangan dan tidak dapat sendirian menyelesaikan seluruh persoalan biaya logistik nasional. Ukuran yang lebih fair adalah: seberapa besar efisiensi, reliability, dan kemudahan berusaha yang berhasil diciptakan pada bagian rantai logistik yang berada dalam kendali Pelindo? Memasuki tahun kelima merger, pertanyaan tersebut semakin relevan. Jika lima tahun pertama merupakan periode konsolidasi dan integrasi, lima tahun berikutnya semestinya menjadi fase untuk membuktikan incremental value of integration. Hari Pelanggan Nasional dapat menjadi reality check yang sederhana. Pelanggan adalah pihak yang paling tepat untuk menilai apakah perubahan internal perusahaan benar-benar menghasilkan perubahan yang mereka rasakan. Pada akhirnya, Pelindo tidak cukup hanya menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih terintegrasi. MERGER HARUS MEMBUAT PELANGGAN LEBIH MUDAH BERBISNIS DENGAN PELINDO. Kemudahan tersebut harus didukung oleh operasi yang semakin reliable, produktif, efisien, dan predictable. Pelindo sudah memiliki skala dan jaringan nasional. Tantangan lima tahun berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi operational excellence, operational excellence menjadi customer value, dan customer value menjadi ease of doing business. Itulah makna Hari Pelanggan Nasional yang relevan bagi Pelindo: bukan sekadar merayakan pelanggan, tetapi memastikan bahwa setelah lima tahun merger, pelanggan benar-benar merasakan bahwa berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih mudah.[•]
Uncategorized

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya?

Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional...

Uncategorized

Elang Jawa Diselamatkan, PGE Raih Penghargaan HKAN 2026

Jakarta, hotfokus.com Komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam menjaga satwa...

Pertamina Drilling Bidik Pasar Timor-Leste, Kerja Sama Timor GAP Diperpanjang
Uncategorized

Pertamina Drilling Bidik Pasar Timor-Leste, Kerja Sama Timor GAP Diperpanjang

Jakarta, Hotfokus.com Pertamina Drilling kembali memperkuat pijakan bisnisnya di kawasan Asia Tenggara....