Jakarta, Hotfokus.com
Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menambah cadangan minyak dan gas bumi (migas). Sebanyak 65 dari total 128 cekungan migas nasional belum dieksplorasi, sehingga percepatan pencarian sumber energi baru menjadi salah satu agenda penting untuk menjaga ketahanan energi.
Potensi tersebut menjadi pembahasan utama dalam Sokoguru Policy Forum bertajuk “Darurat Eksplorasi, Mutlaknya Kolaborasi Mendukung Ketahanan Energi Nasional” di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Melalui Sokoguru Policy Series, para pemangku kepentingan mendorong kerja sama lintas sektor agar kegiatan eksplorasi berjalan lebih cepat dan mampu menghasilkan temuan cadangan baru.
SKK Migas Buka Peluang Eksplorasi di Puluhan Cekungan
Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikki Rahmat Firdaus, mengungkapkan masih banyak wilayah cekungan yang belum mendapatkan kegiatan eksplorasi.
Untuk mendorong pemanfaatan potensi tersebut, SKK Migas meluncurkan kampanye basin to barrel yang menawarkan berbagai kemudahan guna mempercepat eksplorasi.
“Dengan itu, SKK Migas meluncurkan kampanye basin to barrel untuk mengakselerasi kegiatan eksplorasi pada cekungan-cekungan dengan memberikan berbagai kemudahan,” kata Rikki.
Pertamina Bidik Cadangan Migas Baru
Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), Raden Adjeng Sondaryani, menilai Indonesia perlu mengambil langkah lebih berani untuk meningkatkan cadangan migas. Salah satunya dengan menjajaki wilayah frontier, mengeksplorasi laut dalam atau deep water, serta mencari lapangan berpotensi besar atau giant fields.
Adjeng berharap penemuan cadangan baru dapat memperkuat upaya swasembada energi sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi di dalam negeri, sejalan dengan program Asta Cita Presiden RI.
Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyoroti penurunan produksi sumur dan realisasi pengeboran eksplorasi yang belum mencapai target.
“Perlu kolaborasi untuk akselerasi kegiatan eksplorasi antara regulator, auditor negara, praktisi hukum, pelaku usaha, dan akademisi,” tegas Agung.

Regulasi dan Kepastian Investasi Jadi Sorotan
Koordinator Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional, Satya Widya Yudha, mengingatkan bahwa kemampuan ASEAN sebagai pengekspor bahan bakar fosil semakin melemah di tengah peningkatan kebutuhan impor minyak.
Menurut Satya, Indonesia perlu meningkatkan eksplorasi, mengoptimalkan produksi minyak, mengembangkan lapangan gas baru, dan memperkuat infrastruktur untuk menjaga pasokan energi.
Dari sisi industri, VP Supply Chain Management and Procurement Searah Muara Bakau, Teddy Wahyu Rahmanto, menegaskan bahwa keberlanjutan produksi bergantung pada aktivitas pencarian cadangan baru.
“Karena tanpa eksplorasi yang kuat, tidak akan ada produksi yang sustainable,” tutur Teddy.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengidentifikasi sejumlah hambatan investasi migas, mulai dari proses perizinan yang rumit hingga ketidakpastian aturan fiskal serta tingginya risiko teknis dan keekonomian.
Ia mendorong pemerintah mempercepat penyelesaian Undang-Undang Migas, memberikan fleksibilitas fiskal, menyederhanakan perizinan, dan memperkuat perlindungan hukum bagi keputusan bisnis yang diambil dengan itikad baik.
Kepala SKK Migas periode 2014–2018, Amien Sunaryadi, menambahkan bahwa kekhawatiran dalam mengambil keputusan turut menghambat agresivitas eksplorasi. Karena itu, perlindungan keputusan bisnis perlu mendapat perhatian tanpa mengabaikan upaya pemberantasan korupsi.

Kolaborasi melalui Sokoguru Policy Series diharapkan mampu mempercepat penemuan cadangan migas, menjaga kesinambungan produksi, mengurangi risiko gangguan pasokan, dan memperkuat ketahanan energi Indonesia. (*)
Leave a comment