Jakarta, Hotfokus.com
Indonesia bersiap membawa agenda besar dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP31 di Antalya, Türkiye, pada 9–20 November 2026. Pemerintah akan memanfaatkan forum internasional tersebut untuk mencari dukungan pendanaan sekaligus mempercepat transisi energi menuju ekonomi hijau.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan Indonesia ingin memperkuat kerja sama internasional dalam pembiayaan energi bersih. Sejumlah lembaga yang menjadi sasaran penguatan akses pendanaan antara lain Green Climate Fund (GCF), Global Environment Facility (GEF), dan Adaptation Fund.
“Transisi energi merupakan bagian penting dari upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca, sebagaimana tercantum dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) yang diserahkan Indonesia kepada UNFCCC pada 2025,” kata Jumhur, Kamis (5/11/2026).
Emisi Indonesia Diproyeksikan Capai Puncak pada 2030
Dalam dokumen Second NDC, Indonesia memperkirakan emisi gas rumah kaca mencapai puncaknya pada 2030, yakni sekitar 1,35–1,49 miliar ton setara karbon dioksida (CO₂e).
Selanjutnya, pada 2035, proyeksi emisi berada di kisaran 1,26–1,49 miliar ton CO₂e, bergantung pada skenario pembangunan rendah karbon.

Pemerintah menilai pengurangan emisi bukan sekadar agenda lingkungan. Strategi ini juga membuka peluang investasi hijau dan menciptakan lapangan kerja melalui pengembangan ekonomi berkelanjutan.
EBT 42,6 GW dan PLTS 100 GW Jadi Andalan
Indonesia juga akan memamerkan rencana pengembangan energi terbarukan melalui RUPTL 2025–2034. Dokumen tersebut menargetkan tambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,6 gigawatt (GW), setara sekitar 61% dari total rencana penambahan kapasitas pembangkit hingga 2034.
Selain itu, pemerintah akan memaparkan perkembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt-peak (GWp).
Eddy mengatakan COP31 menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan pencapaian sekaligus target energi bersih kepada dunia.
“COP31 memberikan peluang bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia apa saja yang sudah dikerjakan, dan apa saja yang ingin dicapai dalam waktu dekat,” imbuhnya.
Melalui agenda tersebut, Indonesia ingin memperkuat posisi dalam transisi energi global sekaligus membuka jalan bagi investasi hijau di dalam negeri. (SA/GIT)
Leave a comment