Balikpapan, Hotfokus.com
PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) terus mencari cara untuk meningkatkan produktivitas sumur migas di Kalimantan Timur. Salah satunya melalui penerapan teknologi hydraulic fracturing di Lapangan Mutiara dan Pamaguan, Kutai Kartanegara.
Program stimulasi tersebut berlangsung sejak 2023 hingga 2026. Dalam periode itu, PHSS telah mengaplikasikan metode tersebut pada 16 sumur dengan mempertimbangkan kondisi reservoir dan tantangan teknis setiap lokasi.
Hasilnya cukup signifikan. Tambahan produksi minyak mencapai 100 hingga 500 barel per hari (BOPD), sedangkan produksi gas bertambah 0,1-0,4 MMSCFD.

Program tersebut juga memiliki potensi meningkatkan Estimated Ultimate Recovery (EUR) hingga 1,3 juta barel minyak dan 300.000 kaki kubik gas.
PAM-66 Jadi Sumur dengan Capaian Tertinggi
General Manager Zona 9 Dadang Soewargono mengatakan penerapan teknologi menjadi strategi penting untuk mempertahankan kinerja lapangan migas yang telah memasuki fase matang.
“Penerapan inovasi dan teknologi memainkan peranan penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas,” ujar Dadang.
Capaian terbesar terlihat pada sumur PAM-66 di Lapangan Pamaguan. Setelah menjalani proses hydraulic fracturing, sumur tersebut menghasilkan tambahan produksi minyak awal hingga 500 BOPD.
Metode ini menggunakan cairan bertekanan tinggi untuk membuat rekahan pada reservoir. Dengan cara tersebut, aliran minyak dan gas dari batuan dengan karakteristik kurang baik dapat menjadi lebih lancar.
PHSS selanjutnya akan memetakan sumur dan reservoir lain yang berpotensi menjalani stimulasi serupa. Perusahaan menilai strategi tersebut penting untuk menjaga produksi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. (***)
Leave a comment