Home PERTAMINA Pengeboran Migas Makin Kompleks, Pertamina Drilling Ingatkan Risiko Besar di Sumur Laut Dalam
PERTAMINA

Pengeboran Migas Makin Kompleks, Pertamina Drilling Ingatkan Risiko Besar di Sumur Laut Dalam

Share
Pengeboran Migas Makin Kompleks, Pertamina Drilling Ingatkan Risiko Besar di Sumur Laut Dalam
Share

Jakarta, hotfokus.com

Industri hulu migas menghadapi tantangan yang semakin berat seiring berkurangnya cadangan energi yang mudah diproduksi. Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk mengembangkan sumber daya yang berada di wilayah laut dalam maupun area bertekanan dan bersuhu ekstrem.

Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), Avep Disasmita, menilai aspek keselamatan menjadi faktor penentu dalam menjalankan proyek pengeboran berisiko tinggi, termasuk sumur High Pressure High Temperature (HPHT) dan deepwater.

Pernyataan itu disampaikan Avep saat menjadi pembicara dalam Workshop HPHT and Deepwater Wells yang diselenggarakan Society of Petroleum Engineers (SPE) di Jakarta.

Menurutnya, kebutuhan energi global diperkirakan terus meningkat hingga 2035. Di saat yang sama, sumber daya migas yang baru ditemukan justru banyak berada di lokasi yang lebih menantang untuk dikembangkan.

Avep menjelaskan bahwa lebih dari 70 persen penemuan cadangan migas baru pada 2025 berasal dari kawasan deepwater dan ultra-deepwater. Bahkan, sebagian besar sumur eksplorasi strategis yang direncanakan pada 2026 berada di area laut dalam.

Karena itu, kemampuan perusahaan dalam mengelola operasi pengeboran yang rumit akan menjadi keunggulan kompetitif di masa mendatang.

“Keberhasilan operasi tidak hanya ditentukan oleh target kedalaman atau kecepatan pengeboran, tetapi juga kemampuan menjaga keselamatan, keandalan, efisiensi, dan keberlanjutan operasi,” kata Avep.

Indonesia sendiri memiliki sejumlah potensi migas yang masuk kategori HPHT maupun deepwater. Beberapa di antaranya berada di wilayah Tangkulo, Kutai Basin, dan Masela yang membutuhkan dukungan teknologi serta pengalaman teknis yang kuat.

Di sisi lain, tingkat kesulitan proyek tersebut jauh lebih tinggi dibanding pengeboran konvensional. Sumur HPHT dapat menghadapi tekanan hingga 20.000 psi dengan suhu melampaui 177 derajat Celsius.

Tak hanya itu, proyek laut dalam juga membutuhkan biaya investasi dan operasional yang jauh lebih besar. Bahkan, biaya akibat non productive time (NPT) dapat mencapai US$1,5 juta setiap hari.

Avep menegaskan bahwa kesalahan kecil dalam operasi semacam ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar dan mengancam nilai proyek yang telah dibangun dalam waktu lama.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pertamina Drilling terus memperkuat budaya keselamatan di seluruh lini organisasi. Menurut Avep, keselamatan harus menjadi bagian dari kepemimpinan dan tercermin dalam setiap keputusan operasional.

Selain mengedepankan kualitas sumber daya manusia, perusahaan juga memanfaatkan berbagai teknologi digital seperti artificial intelligence (AI), machine learning, digital twin, serta sistem operasi real-time guna meningkatkan pemantauan risiko dan efektivitas pekerjaan di lapangan.

Implementasi strategi tersebut tercermin dari kinerja perusahaan sepanjang 2025. Pertamina Drilling membukukan TRIR sebesar 0,29, LTIF 0,09, dan tingkat NPT hanya 1,29 persen.

Pencapaian itu bahkan melampaui rata-rata industri global yang menjadi acuan berbagai organisasi internasional, termasuk IADC dan IOGP. Atas kinerja tersebut, Pertamina Drilling juga menerima penghargaan keselamatan dari International Association of Drilling Contractors (IADC).

Avep menambahkan, pengembangan sumur HPHT dan deepwater membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Operator, kontraktor, regulator, perusahaan jasa, hingga penyedia teknologi perlu bekerja bersama untuk menciptakan operasi yang aman, efisien, dan andal.

Menurutnya, kolaborasi yang kuat menjadi kunci untuk menghadapi tantangan pengeboran migas generasi berikutnya yang semakin dalam, panas, dan kompleks. ***



Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Panas Bumi Kamojang Sulap 600 Ton Limbah, Panen Petani Tembus 55 Ton
PERTAMINA

Panas Bumi Kamojang Sulap 600 Ton Limbah, Panen Petani Tembus 55 Ton

Kamojang, Hotfokus.com Ada cerita berbeda dari pemanfaatan energi panas bumi di Kamojang,...

5.000 Warga Enrekang Kini Bisa Bernapas Lega, Jembatan Kaluppini Kembali Berfungsi
PERTAMINA

5.000 Warga Enrekang Kini Bisa Bernapas Lega, Jembatan Kaluppini Kembali Berfungsi

Enrekang, Hotfokus.com Aktivitas warga di lima desa di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan,...

PGTC 2026 Bikin Kejutan, UI dan Unesa Kuasai Dua Kompetisi Energi
PERTAMINA

PGTC 2026 Bikin Kejutan, UI dan Unesa Kuasai Dua Kompetisi Energi

Jakarta, Hotfokus.com Persaingan mahasiswa dalam Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026 berakhir...

PERTAMINA

Saat Kapal Listrik Masuk Desa: Nelayan Kelan Bisa Melaut Lebih Hemat, Senyap, dan Bersih

Jakarta, hotfokus.com Laut mungkin terlihat seperti hamparan biru yang indah dari kejauhan....