Bali, Hotfokus.com
PT Pertamina (Persero) terus mempercepat langkah menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui penguatan program dekarbonisasi dan pengembangan bisnis berbasis energi rendah karbon. Strategi ini dijalankan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan tuntutan pengurangan emisi.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan perusahaan mengusung strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy. Melalui pendekatan tersebut, Pertamina tetap mengoptimalkan bisnis energi konvensional sambil memperluas investasi pada sektor energi bersih yang berkelanjutan.
Menurut Agung, upaya transisi energi di Indonesia harus mampu menjawab tiga tantangan utama, yakni menjaga keamanan pasokan energi, memastikan keterjangkauan harga, dan mendukung keberlanjutan lingkungan.

Dalam forum World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific di Bali, Agung menegaskan Pertamina terus memperkuat berbagai inisiatif dekarbonisasi. Langkah tersebut mencakup pemanfaatan energi panas bumi, pengurangan praktik flaring, serta pengembangan bahan bakar nabati dan teknologi penangkapan karbon.
“Pertamina saat ini memiliki visi menjaga keamanan energi nasional dan mendorong transisi energi melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan membangun bisnis rendah karbon,” ujar Agung.
Perusahaan juga mengganti sejumlah peralatan berbahan bakar fosil dengan teknologi berbasis listrik. Program tersebut menghasilkan efisiensi emisi sebesar 1,52 juta ton setara CO2 atau menyumbang lebih dari dua pertiga total pengurangan emisi perusahaan.

Di sektor energi terbarukan, Pertamina mengembangkan proyek panas bumi di Hululais dan Lahendong dengan potensi kapasitas hingga 1,4 gigawatt. Selain itu, perusahaan membidik potensi penjualan biofuel mencapai 60 juta kiloliter pada 2029 melalui pengembangan Bio Refinery Cilacap.
Sementara itu, pengurangan emisi metana terus dilakukan melalui program zero flaring dan Leak Detection & Repair (LDAR). Program tersebut berhasil menekan emisi metana tidak terkendali hingga kisaran 30 persen sampai 39,7 persen di sejumlah wilayah operasi. (*)
Leave a comment