Jakarta, hotfokus.com
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung, mengingatkan kondisi global saat ini diwarnai ketidakpastian tinggi, termasuk ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel sehingga berdampak pada pasar keuangan.
Menurut wamen, tekanan tersebut tercermin pada kenaikan imbal hasil (yield) serta melemahnya nilai tukar rupiah yang memerlukan intervensi besar.
“Kita hidup di dalam era yang penuh ketidakpastian dan risiko. Nah dihadapkan pada tantangan tersebut, kita engga bisa diam. Kita harus ada manajemen risiko. Perlu decision making under uncertainty,” katanya, saat menghadiri Townhall Meeting dan Halalbihalal Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan ada perbedaan antara risiko dan ketidakpastian. Risiko masih dapat diukur probabilitasnya, sementara ketidakpastian tidak.
Karenanya dalam situasi yang tidak pasti, Juda mengungkap pemerintah perlu menyiapkan berbagai skenario sebagai dasar pengambilan kebijakan, termasuk mengantisipasi pergerakan harga minyak dan dampaknya terhadap fiskal.
Menghadapi tekanan tersebut, ia memproyeksikan defisit anggaran masih dapat dijaga di bawah batas 3 persen, meski berada pada level cukup ketat. Karena itu pentingnya kewaspadaan untuk menjaga ruang fiskal agar tidak melampaui batas aman.
Selain itu, Juda menambahkan pentingnya organisasi yang adaptif dan lincah (agile), baik individu maupun institusi harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa meninggalkan prinsip dasar seperti integritas.

“Fleksibilitas sangat penting selama tidak melanggar prinsip. Kita harus adaptif terhadap perubahan kebijakan dan lingkungan,” katanya. (bi)
Leave a comment