Home Uncategorized PLN Raih Predikat Platinum SDGs, Bukti Nyata Kepedulian Sosial dan Lingkungan
Uncategorized

PLN Raih Predikat Platinum SDGs, Bukti Nyata Kepedulian Sosial dan Lingkungan

Share
PLN Raih Predikat Platinum SDGs, Bukti Nyata Kepedulian Sosial dan Lingkungan
Perwakilan dari PLN Group berfoto bersama Chairman The La Tofi School of Social Responsibility, Taufik La Tofi sesaat setelah masing-masing menerima penghargaan pada ajang Nusantara CSR Awards 2025 yang diselenggarakan di Jakarta, (2/7).
Share

Jakarta, Hotfokus.com

PT PLN (Persero) Group menorehkan prestasi membanggakan dengan menyabet 43 penghargaan sekaligus meraih Predikat Platinum Sustainable Development Goals (SDGs) pada ajang Nusantara CSR Awards 2025. Penghargaan tersebut diberikan oleh The La Tofi School of Social Responsibility sebagai pengakuan atas komitmen kuat PLN dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berdampak luas bagi masyarakat serta mendukung pembangunan berkelanjutan.

Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Chairman The La Tofi School of Social Responsibility, Taufik La Tofi, dalam seremoni yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 2 Juli 2025 lalu. Dalam sambutannya, Taufik La Tofi menegaskan bahwa CSR bukan sekadar program sosial biasa, melainkan telah menjadi bagian strategis dalam keberlanjutan bisnis perusahaan.

“Melalui ajang Nusantara CSR Awards 2025, kita disuguhkan ragam praktik baik yang membumi, berdampak, dan penuh harapan. CSR bukan sekadar program, tetapi janji bersama untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Taufik La Tofi.

Ia menambahkan, penghargaan diberikan kepada perusahaan yang bukan hanya memiliki kepedulian sosial, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, CSR kini bukan hanya sebatas penyaluran bantuan, melainkan wujud nyata untuk mewujudkan keadilan sosial, pertumbuhan ekonomi, serta kelestarian lingkungan.

“Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang memiliki komitmen nyata menjalankan program CSR yang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan dan membawa dampak yang dirasakan masyarakat,” lanjutnya.

PLN Wujudkan Transformasi Sosial Lewat TJSL

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan bahwa pencapaian ini menjadi bukti komitmen PLN dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, melampaui peran utamanya sebagai penyedia listrik nasional.

“PLN tidak hanya menghadirkan listrik yang andal, tetapi juga hadir sebagai agen transformasi sosial yang aktif mendorong kesejahteraan masyarakat. Melalui program TJSL, kami ingin menciptakan manfaat langsung dan jangka panjang, selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan,” kata Darmawan.

Ia menjelaskan, seluruh program TJSL PLN dijalankan dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV) yang mengintegrasikan kepentingan sosial dan bisnis. Lewat inisiatif tersebut, PLN memastikan bahwa program sosial tidak hanya berdampak positif bagi masyarakat, namun juga mendukung keberlanjutan usaha perusahaan.

Beberapa contoh program unggulan PLN yang diapresiasi dalam ajang Nusantara CSR Awards 2025 antara lain:

Pemanfaatan limbah fly ash bottom ash (FABA) dari PLTU sebagai material konstruksi untuk infrastruktur desa

Program Electrifying Agriculture yang meningkatkan produktivitas petani, nelayan, dan pelaku UMKM berbasis komunitas

Pengelolaan sampah menjadi energi melalui co-firing di PLTU

“Pendekatan CSV menjadi landasan bagi PLN dalam menjalankan program-program TJSL, sehingga diharapkan upaya ini dapat terus memberikan dampak positif yang berkelanjutan di berbagai sektor. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk semakin meningkatkan kualitas program dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat di masa depan,” ujar Darmawan.

Deretan Program TJSL PLN Raih Platinum

Selain predikat Platinum SDGs yang diperoleh karena meraih lebih dari 12 kategori penghargaan, PLN mencatat sejumlah program TJSL yang mendapatkan penghargaan tertinggi di Nusantara CSR Awards 2025. Beberapa di antaranya yaitu:

  • Analisis Efektivitas Aplikasi Dompet Sampah sebagai inovasi digital untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dan pendapatan masyarakat (PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat)
  • Penyediaan instalasi air bersih di Desa Tanjung Kukuh, Sumatera Selatan (PLN Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Selatan)
  • Pengembangan UMK berbasis Wastra (kain tradisional Nusantara) di Desa Sidoharjo, Lampung
  • Pemberdayaan Bengkel Konversi kendaraan listrik guna mendukung transisi energi bersih di Kalimantan Barat
  • Sekolah Pantai Indonesia (SPI) SMKN 5 Balikpapan sebagai pionir inovasi pengolahan sampah
  • Pengelolaan madu di Desa Pasawahan, Kabupaten Garut
  • Pemberdayaan Kampung Literasi di Indramayu untuk meningkatkan minat baca
  • Pengembangan Desa Wisata Mamuya di Maluku dan Papua
  • Pelatihan & sertifikasi keamanan lingkungan berbasis listrik di Sumatera Bagian Utara
  • Rumah Batik Palbatu sebagai pusat ekonomi kreatif inklusif ramah disabilitas (PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya)
  • Kampung Lali Gadget di Jawa Timur untuk membangkitkan permainan tradisional anak

Pembangunan ruang terbuka hijau ramah anak di Kalimantan Barat

  • Ecowisata Sekolah Alam Yombe Yawa Datum di Papua

Selain itu, PLN juga mengembangkan program Dari Lereng ke Ladang dan Puskesmas di Poco Leok, Nusa Tenggara, guna menyediakan akses air bersih, serta berbagai pelatihan pemberdayaan masyarakat seperti budidaya jamur tiram, daun kelor, dan lemon yang diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Beragam inisiatif tersebut menunjukkan bagaimana PLN terus bertransformasi menjadi perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi juga pada penciptaan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Dengan raihan ini, PLN menegaskan posisinya sebagai salah satu BUMN yang paling konsisten menjalankan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial di Indonesia. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Uncategorized

1.000 Riders BMW Motorrad Merapat ke Bali, Pertamax Turbo Bawa Kejutan

Bali, Hotfokus.com Bali menjadi titik temu para penggemar BMW Motorrad dari berbagai...

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027
Uncategorized

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai menggeber langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin....

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya? Bambang Sabekti Praktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional setiap 4 September menjadi momentum yang menarik bagi Pelindo. Sebab, tidak lama lagi, tepat 1 Oktober 2026, Pelindo memasuki lima tahun sejak merger empat BUMN pelabuhan. Lima tahun bukan lagi sekadar masa transisi. Periode ini sudah cukup untuk melihat apakah integrasi organisasi telah menghasilkan kemampuan operasional dan nilai bisnis yang lebih baik. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah merger Pelindo berhasil menyatukan organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa incremental value setelah Pelindo menjadi satu? Jawabannya perlu dilihat setidaknya dari dua sisi: operational excellence dan customer value. Dalam bisnis pelabuhan, operational excellence tidak cukup dimaknai sebagai meningkatnya produktivitas satu terminal. Pelabuhan merupakan sistem yang melibatkan kapal, terminal, peralatan, tenaga kerja, gate, yard, trucking, serta berbagai proses pelayanan. Operational excellence berarti kemampuan mengelola proses tersebut secara efisien, konsisten, reliable, dan predictable. Kapal membutuhkan kepastian berth. Bongkar muat membutuhkan produktivitas peralatan. Kontainer membutuhkan yard yang dikelola dengan baik. Truk membutuhkan proses gate yang lancar. Pengguna jasa membutuhkan informasi yang akurat dan keputusan operasional yang cepat. Satu titik yang tidak efisien dapat mengurangi manfaat efisiensi pada titik lainnya. Di sinilah merger memberikan peluang besar. Dengan berada dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki kesempatan mengembangkan common operating standard, berbagi best practices, mengoptimalkan aset dan kapasitas, serta menggunakan data dan teknologi secara lebih terintegrasi. Namun, standardisasi bukan tujuan akhir. Bagi pelanggan, salah satu manfaat paling fundamental dari merger seharusnya adalah ease of doing business. Sebelum merger, pengguna jasa berhadapan dengan entitas Pelindo yang berbeda sesuai wilayah dan pelabuhannya. Setelah merger, pelanggan secara logis mengharapkan pengalaman berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih sederhana: standar semakin jelas, proses semakin seragam, akses informasi semakin mudah, dan tidak perlu menghadapi variasi proses yang sebenarnya tidak memberikan nilai tambah. Inilah salah satu acid test merger: APAKAH MENJADI PELANGGAN PELINDO SEKARANG LEBIH MUDAH DARIPADA SEBELUMNYA? Pertanyaan tersebut bukan sekadar soal keramahan pelayanan. Ease of doing business menyangkut waktu, jumlah tahapan, transparansi, kepastian keputusan, kemudahan akses layanan, serta kemampuan pelanggan menyelesaikan urusannya tanpa proses yang berulang. Dengan perspektif yang sama, digitalisasi juga harus diukur dari manfaatnya bagi pelanggan. Keberhasilan digitalisasi bukan berapa banyak aplikasi yang dimiliki, tetapi berapa banyak proses yang menjadi lebih sederhana dan berapa banyak interaksi yang tidak lagi diperlukan pelanggan. Di sinilah operational excellence bertemu dengan customer value. Dalam bisnis kepelabuhanan, customer value dapat dilihat dari hal yang konkret: waktu yang lebih singkat, proses yang lebih sederhana, biaya yang lebih efisien, dan kepastian yang lebih tinggi. Merger juga memberikan peluang untuk mengelola Pelindo sebagai port network, bukan sekadar kumpulan terminal. Dengan jaringan nasional dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan kapasitas antarpelabuhan, berbagi best practices, mengurangi ketidakseimbangan utilisasi, dan memperkuat konektivitas antarkawasan. Namun, network advantage baru menjadi value apabila pelanggan dapat merasakannya dalam bentuk layanan yang lebih baik dan proses bisnis yang lebih mudah. Karena itu, ukuran keberhasilan merger juga harus tetap berada dalam scope Pelindo. Pelindo tidak menentukan surplus atau defisit perdagangan dan tidak dapat sendirian menyelesaikan seluruh persoalan biaya logistik nasional. Ukuran yang lebih fair adalah: seberapa besar efisiensi, reliability, dan kemudahan berusaha yang berhasil diciptakan pada bagian rantai logistik yang berada dalam kendali Pelindo? Memasuki tahun kelima merger, pertanyaan tersebut semakin relevan. Jika lima tahun pertama merupakan periode konsolidasi dan integrasi, lima tahun berikutnya semestinya menjadi fase untuk membuktikan incremental value of integration. Hari Pelanggan Nasional dapat menjadi reality check yang sederhana. Pelanggan adalah pihak yang paling tepat untuk menilai apakah perubahan internal perusahaan benar-benar menghasilkan perubahan yang mereka rasakan. Pada akhirnya, Pelindo tidak cukup hanya menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih terintegrasi. MERGER HARUS MEMBUAT PELANGGAN LEBIH MUDAH BERBISNIS DENGAN PELINDO. Kemudahan tersebut harus didukung oleh operasi yang semakin reliable, produktif, efisien, dan predictable. Pelindo sudah memiliki skala dan jaringan nasional. Tantangan lima tahun berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi operational excellence, operational excellence menjadi customer value, dan customer value menjadi ease of doing business. Itulah makna Hari Pelanggan Nasional yang relevan bagi Pelindo: bukan sekadar merayakan pelanggan, tetapi memastikan bahwa setelah lima tahun merger, pelanggan benar-benar merasakan bahwa berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih mudah.[•]
Uncategorized

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya?

Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional...

Uncategorized

Elang Jawa Diselamatkan, PGE Raih Penghargaan HKAN 2026

Jakarta, hotfokus.com Komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam menjaga satwa...