Jakarta, Hotfokus.com
Bank Indonesia (BI) akan kembali menempuh beberapa kebijakan strategis di tahun 2021 demi mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN). Lima kebijakan yang akan digulirkan tahun depan ini sebagai lanjutan dari kebijakan yang telah dilakukan BI selama tahun 2020.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan lima kebijakan lanjutan yang bakal ditempuh BI dipastikan tetap menjaga stabilitas makro ekonomi dan juga stabilitas sistem keuangan nasional. Pertama, BI akan melanjutkan stimulus moneter dengan menempuh kebijakan suku bunga yang rendah dan likuiditas yang longgar. Seperti diketahui BI baru saja menetapkan kebijakan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) tetap berada di level 3,75 persen.
“Kami akan terus menempuh kebijakan suku bunga rendah dan likuiditas longgar sampai ada tanda – tanda tekanan inflasi meningkat, BI telah melakukan penurunan sukbung secara agresif sekarang 3,75 persen. Ini terendah di sepanjang sejarah dan tentu saja dalam forum ini perlu diikuti penurunan suku bunga kredit oleh perbankan,” ujar Perry dalam Outlook Perekonomian Indonesia “Meraih Peluang Pemulihan Ekonomi 2021 secara virtual, Selasa (22/12/2020).
Kedua, BI akan terus melakukan pelonggaran kebijakan makroprudensial demi mendukung pembiayaan di sektor riil. Kebijakan ini juga dipastikan akan tetap akomodatif sehingga bisa memicu peningkatan kredit seperti kebijakan uang muka kredit yang lebih longgar.
Ketiga, BI memastikan akan tetap mendukung pemenuhan kebutuhan pendanaan nasional (APBN) melalui beberapa mekanisme yang telah ditetapkan. BI akan standby untuk membeli SBN di pasar perdana ketika pasar tidak mampu menyerapnya. Sementara untuk pembelian SBN secara langsung sementara ini hanya berlaku khusus di tahun 2020 saja.
Keempat, Perry juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan pendalaman pasar keuangan demi mendukung pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan jangka panjang. Oleh sebab itu BI akan terus melakukan komunikasi secara intensif dengan pemerintah atau otoritas terkait lainnya agar kebutuhan pembiayaan jangka panjang bisa terpenuhi.
“Kelima kami akan terus mendukung program digitalisasi keuangan khususnya pada sektor UMKM atau sektor riil. Kami ada QRIS (QR Indonesia Standard) yang telah membantu 5,2 juta UMKM dan ritel bisa teregister, kami targetkan bisa meningkat menjadi 12,5 juta,” pungkasnya. (DIN/RIF)
Leave a comment