Home EKONOMI Optimisme Industri Menurun Akibat Regulasi Tak Pro Bisnis
EKONOMI

Optimisme Industri Menurun Akibat Regulasi Tak Pro Bisnis

Share
Share

Jakarta, Hotfokus.com

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengaku optimisme pelaku industri menurun. Ini tercermin dari capaian Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2024 yang berada di level 52,1 atau melambat dibanding bulan sebelumnya yang berada di posisi 52,9.

“Aktivitas produksi sektor industri yang menurun karena anjloknya pesanan dari luar negeri dan juga kekhawatiran pengurangan pesanan dalam negeri pada waktu mendatang. Kondisi ini berkaitan langsung kebutuhan tenaga kerja industri,” kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, Senin (3/6/2024).

Kemenperin menengarai melambatnya manufaktur Indonesia pada Mei lalu kemungkinan dipengaruhi regulasi yang dianggap tak pro bisnis terhadap pelaku industri di dalam negeri, seperti terbitnya Permendag No 8/2024 tentang Perubahan Ketiga atas Permendag No 36/2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor.

“Kami khawatir penurunan ini sebagian disebabkan oleh regulasi yang tidak pro ke pelaku industri, yang dianggap kurang bersahabat dengan sektor manufaktur, salah satunya Permendag No. 8/2024, sehingga mempengaruhi optimisme pelaku industri dalam negeri,” ucap Febri.

Karenanya, Kemenperin terus berupaya agar Permendag No 8/2024 tidak membawa sentimen negatif yang lebih dalam untuk pelaku industri manufaktur di Indonesia, sehingga PMI bulan depan diharapkan tak akan merosot lagi. “Kami sudah menerima masukan dari banyak asosiasi sektor industri yang menyatakan keberatannya atas penerapan Permendag No 8/2024. Itupun sudah disampaikan mereka kepada publik oleh masing-masing asosiasi,” ujarnya.

Selain itu, ia menambahkan karut marut dari implementasi kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk industri, juga membawa dampak menurunnya kepercayaan diri dari pelaku manufaktur. Padahal fasilitas HGBT menjadi stimulus penting untuk meningkatkan produktivitas industri dan menarik investasi masuk ke Indonesia.

“Banyak sekali calon investor yang menunggu apakah kebijakan HGBT 6 dolar AS per MMBTU untuk industri ini akan dilanjutkan atau tidak? Karena insentif ini sangat menarik bagi mereka, sebagai salah satu kunci untuk bisa berdaya saing,” pungkasnya.

Menurut Febri, ada dua instrumen penting yang dapat menumbuhkan kinerja industri nasional. Selain menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). SNI bisa dipergunakan untuk mengontrol impor dan melindungi industri dalam negeri.

“Kita tidak boleh lupa mengenai prinsip TKDN. Prinsip pertama bahwa TKDN mendorong dan menumbuhkembangkan investasi. Kemudian kedua, TKDN menumbuhkan pohon-pohon industri yang masih kosong. Dan ketiga adalah TKDN memperluas nilai tambah,” ungkapnya. (bi)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
EKONOMI

Pendekatan Baru, Optimalkan Kelola Kas Negara Buat Dongkrak Pertumbuhan

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah akan mengembangkan pendekatan baru dengan mengoptimalkan pengelolaan kas negara...

EKONOMI

Diversifikasi & Kolaborasi Kunci Perkuat Ketahanan Perdagangan

Jakarta, hotfokus.com Di tengah tantangan ekonomi dunia, diversifikasi dan kolaborasi global menjadi...

Danantara Bikin Investor Global Makin Kepincut, Tony Blair Sebut Indonesia Masuk Radar Utama
EKONOMI

Danantara Bikin Investor Global Makin Kepincut, Tony Blair Sebut Indonesia Masuk Radar Utama

Jakarta, hotfokus.com Minat investor global terhadap Indonesia kembali menjadi sorotan setelah mantan...

EKONOMI

Menkeu Pastikan Tarif Pajak Tak Naik, Penerimaan Negara Melonjak 21,4 Persen

Jakarta, hotfokus.com Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan menaikkan...