Jakarta, hotfokus.com
Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan asumsi makro RAPBN 2027 menuai sorotan dari kalangan ekonom. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen (±1 persen), suku bunga SBN 10 tahun 6,9 persen, nilai tukar rupiah Rp17.500 per USD, dan harga minyak mentah (ICP) USD75 per barel.
Direktur Riset Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia, A. Akbar Susamto, menilai sebagian asumsi cukup realistis, terutama inflasi dan suku bunga SBN. Namun, ia menyebut target lainnya terlalu ambisius dan berisiko tak tercapai akibat ketidakpastian geopolitik, terutama terkait harga minyak.
“Harga minyak internasional saat ini di atas USD80 per barel. Ketika pemerintah menetapkan USD75, itu harapan yang terlalu optimistis. Pemerintah harus hati-hati jika harga melampaui target,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).
Akbar menekankan pentingnya penyusunan asumsi yang berbasis bukti, bukan sekadar harapan.
“APBN kita harus lebih evidence-based, bukan keinginan mereka yang sedang diberi amanah,” tegasnya.
Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menyoroti asumsi nilai tukar rupiah yang dinilai terlalu optimistis.

“Saya skeptis soal rupiah karena ini berkaitan dengan kepercayaan pasar. Walau Gubernur BI akan berganti, belum ada rencana konkret untuk menguatkan rupiah ke 16.000–17.500 sesuai target,” ujarnya. (DIN/GIT)
Leave a comment