Jakarta, Hotfokus.com
Dalam rangka meningkatkan akurasi data, update dan kelengkapan data perumahan secara optimal bagi usaha meningkatkan kontribusi dektor properti mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) akan membangun Neraca Satelit Perumahan (NSP).
Hal ini disampaikan Kepala BPS Ibu Amalia dalam deseminasi hasil riset UI di kantor kementerian Perumahan pada 25 September 2026 lalu. Riset yang disponsori KADIN Indonesia dipimpin oleh Bapak Uka Wikarya, Dosen UI/LPEM FEB UI.
Penelitian menyampaikan kajian menggunakan data sekunder BPS dan model Input-Output (I-O) dengan cakupan nasional periode 2025–2029. Sektor yang dikaji meliputi properti, real estate, dan konstruksi bangunan.
Beberapa poin utama yang disampaikan yakni kontribusi langsung sektor properti terhadap PDB tahun 2025 mencapai 12,07%, sedangkan dengan memperhitungkan dampak langsung dan tidak langsung mencapai 14,67%, dengan penyerapan 12,62 juta tenaga kerja. Sektor properti memiliki multiplier effect terhadap output, nilai tambah/PDB, pendapatan masyarakat, dan kesempatan kerja.
Dalam skenario pertumbuhan ekonomi 8%, kontribusi total sektor properti diperkirakan meningkat hingga sekitar Rp5.032 triliun pada 2029, dengan tenaga kerja mencapai sekitar 16,11 juta orang. Proyeksi pembangunan MBR tahun 2026–2029 mencapai sekitar 2,977 juta unit berdasarkan asumsi dalam kajian.
Rekomendasi strategis meliputi pembiayaan properti terintegrasi, percepatan RDTR dan zonasi, serta pembentukan working Group. Hasil kajian bersifat skenario/estimasi, bukan prediksi pasti atau target realisasi.
Dalam kesempatan tersebut Kepala BPS – Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan perlu pendalaman backward linkage dan forward linkage sektor properti, termasuk sektor yang ditarik dan didorong oleh aktivitas properti.
Kebutuhan tambahan supply dari industri domestik perlu dimasukkan dalam rekomendasi. Perhitungan kebutuhan rumah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8% perlu mempertimbangkan MBR dan perumahan komersial/non-MBR sehingga dapat terlihat proporsi peran sektor swasta. Cakupan pembangunan rumah perlu diperluas, tidak hanya pembangunan rumah baru, tetapi juga bentuk pembangunan dan perbaikan rumah lainnya.
Kepala BPS mengakui adanya keterbatasan model I-O, khususnya linieritas, homogenitas, dan proporsionalitas, perlu menjadi perhatian dalam penyempurnaan kajian. Dampak terhadap sektor tertentu, seperti industri semen, perlu dihitung secara lebih rinci berdasarkan dampak langsung dan tidak langsung.

Sehingga perlu disusun mitigasi dan prioritas kebijakan agar rekomendasi kajian lebih komprehensif. Dengan demikian BPS menyatakan merasa perlu melakukan penyusunan Neraca Satelit Perumahan (NSP) dalam meningkatkan akurasi data bagi pengembangan kebijakan perumahan yang dinamis di masa mendatang.(ebs)
Leave a comment