SIGI — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Roem Kono menyayangkan angka impor komoditi kakao masih tinggi akibat produksi perkebunan petani dalam negeri merosot.
“Jika melihat luas lahan perkebunan kakao yang kita miliki mencapai jutaan hektar, seharusnya impor komoditi kakao tidak perlu terjadi. Kita bahkan seharusnya yakin bisa wujudkan swasembada kakao,” ungkap Roem Kono saat memimpin Tim Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI meninjau Program Intensifikasi Perkebunan Kakao di Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (19/2).
Politisi Golkar ini menengarai masalah serangan hama PBK menjadi salah satu faktor penyebab turunnya produktivitas perkebunan kakao para petani, dan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah serta berbagai pihak terkait untuk segera menanggulanginya.
“Bupati, Kadis Perkebunan, Perwakilan dari Pupuk Kaltim dan juga BUMN Sang Hyang Seri yang menyediakan bibit unggul harus sinergi untuk memenuhi kebutuhan para petani sehingga tercapai peningkatan produksi kakao melalui program intensifikasi,” pinta Roem, politisi asal Gorontalo.
Bupati Sigi Mohammad Irwan yang ikut mendampingi kunker tersebut menjelaskan bahwa Intensifikasi Kakao oleh Gapoktan Harapan Jaya di Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten yang menjadi target lokasi Program Intensifikasi Kakao di Provinsi Sulawesi Tengah, karena terletak di dekat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kota Palu yang menjadi lokasi industri pengolahan kakao.
Sementara Dirjen Perkebunan Kementan Bambang yang mendampingi Tim Komisi IV DPR, memaparkan bahwa dalam program intensifikasi, Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tengah memilih para petani kakao yang memiliki lahan kakao dengan umur tanaman yang masih relatif muda dan produktif.
“Para petani diberikan sejumlah bantuan seperti pupuk dan obat-obatan herbisida serta pendampingan dalam melaksanakan intensifikasi tersebut,” jelas Bambang.
Program intensifikasi yang sudah dimulai sejak tahun 2015 ini memiliki target peningkatan produktivitas kakao Provinsi Sulawes Tengah dari rata-rata 1 ton/hektar menjadi 1,5 – 2 ton/hektar, mulai tahun 2016,” tutupnya. (kn)
162 Comments