Home NASIONAL Oesman Sapta : Belum Ada PP untuk UU Perfilman
NASIONAL

Oesman Sapta : Belum Ada PP untuk UU Perfilman

Share
Share

JAKARTA — Ketua DPD RI Oesman Sapta mendukung dihidupkannya kembali bioskop rakyat yaitu layar tancap khususnya di daerah. Lantaran, selama ini hanya di kota-kota besar saja bisa menonton bioskop.

“Kita harus menghidupkan kembali layar tancap. Pada prinsipnya saya mendukung perfilman nasional maka yang menjadi prioritas bukan film dari luar,” ucapnya saat menerima kunjungan Panitia Kongres Peran Serta Masyarakat Perfilman di Nusantara III Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (12/2), sebagaimana rilis Sekretariat Jenderal DPD RI.

Ia menambahkan dalam waktu 3 hingga 4 bulan kedepan, DPD juga akan membuat film mengenai daerah. Dengan hadirnya film tersebut diharapkan dapat merangsang daerah-daerah lain.

“Kita juga akan bekerjasama dengan stasiun televisi negeri dan swasta,” ujar Oesman Sapta.

Untuk itu, senator asal Kalimantan Barat itu mengajak Peran Serta Masyarakat Perfilman untuk membuat film nasional yang dapat dinikmati di layar tancap.

“Dengan film akan lebih efektif daripada kita berteriak-teriak di sini (Senayan). Emosional penonton juga bisa ditangkap, maka kita akan buat konsepnya nanti,” tutur dia.

Disisi lain, DPD RI juga mempertanyakan layak atau tidak UU Perfilman untuk saat ini. Pasalnya, UU itu telah diketok sembilan tahun lalu dan sampai saat ini pemerintah belum menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP).

“Kita tidak tahu UU ini masih dibutuhkan atau tidak dengan kondisi saat ini, apa lagi belum ada PP-nya juga. Untuk itu nanti kita buat rapat kerja Komite III DPD dengan Peran Serta Masyarakat Perfilman,” harap Oesman Sapta.

Sementara itu, Ketua Panitia Kongres Peran Serta Masyarakat Perfilman, Sonny Pujisasono mendukung untuk dihidupkan kembali layar tancap di daerah-daerah. Karena, tidak semua masyarakat bisa menonton bioskop di daerahnya.

“Bioskop hanya untuk di kota-kota besar saja. Hampir 500 kabupaten/kota tidak memiliki bioskop,” cetusnya.

Menurutnya, dengan adanya film lokal maka bisa dijadikan alat diplomasi kebudayaan Indonesia seperti di Korea Selatan. Sonny menambahkan film lokal juga merupakan karya anak bangsa yang patut dihargai namun hingga saat ini PP belum ada dari UU Perfilman ini.

“Dengan hadirnya PP maka semua akan diatur baik dari peredarannya. Bahkan film juga dapat merajut NKRI sehingga tepat bila kita bekerjasama dengan DPD RI,” tegas dia.

Sonny juga berharap DPD bisa segera memperjuangkan perfilman Indonesia melalui PP. Bahkan, selama ini bioskop-bioskop di Indonesia lebih mengutamakan film impor dari luar. “Ini yang perlu kita suarakan bersama melalui terbitnya PP itu,” paparnya. (kn)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Pemerintah dorong hilirisasi lewat KEK Gresik. Investasi tembus USD6,1 miliar, sektor manufaktur jadi motor utama.
NASIONAL

KEK Gresik Makin Moncer, Pemerintah Gaspol Hilirisasi Lewat Pabrik Melamin

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah mempercepat penguatan hilirisasi industri untuk mendorong transformasi ekonomi nasional....

NASIONAL

UU Perlindungan Konsumen Kurang ‘Bergigi’. Mendag: Perlu Direvisi

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah mengaku Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) No 8/1999 masih kurang...

Hilirisasi SDA Dipercepat, Pemerintah Dorong Investasi Berkelanjutan Berbasis Nilai Tambah
NASIONAL

Hilirisasi SDA Dipercepat, Pemerintah Dorong Investasi Berkelanjutan Berbasis Nilai Tambah

Jakarta, Hotfokus.com Rachmat Kaimuddin menekankan pentingnya percepatan hilirisasi sumber daya alam (SDA)...

Kemenkop dan MUI Bersatu, Koperasi Jadi Motor Penguatan Ekonomi Umat
NASIONAL

Kemenkop dan MUI Bersatu, Koperasi Jadi Motor Penguatan Ekonomi Umat

Jakarta, Hotfokus.com Kementerian Koperasi menggandeng Majelis Ulama Indonesia untuk memperkuat ekonomi umat...