Jakarta, hotfokus.com
Di tengah gejolak pasar modal dan tekanan nilai tukar di awal 2026, sektor properti sekunder justru menunjukkan daya tahan. Data Flash Report Februari 2026 Rumah123 mengungkap sinyal menarik: jumlah listing turun 9,2% secara tahunan, sementara harga rumah masih tumbuh stabil 0,7% year-on-year.
Kondisi ini menegaskan pasar properti tidak kehilangan permintaan. Sebaliknya, pasar sedang menyesuaikan diri dengan situasi makro. Properti fisik kembali berperan sebagai penopang nilai aset saat ketidakpastian meningkat.
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menyebut fenomena ini sebagai mekanisme pertahanan alami pemilik aset.
“Data kami mempertegas posisi properti sebagai safe haven. Saat inflasi bergerak di atas pertumbuhan harga rata-rata, suplai justru ditahan. Ini bukan pelemahan pasar, melainkan bukti kuatnya holding power pemilik properti di Indonesia,” ujar Marisa, Senin (9/2/2026).
Menariknya, arus modal mulai bergeser ke kota-kota berkembang. Jakarta memang mencatat koreksi harga tipis 0,4% secara tahunan. Namun peluang capital gain justru muncul di wilayah regional. Yogyakarta membukukan kenaikan harga 5,2% yoy, sedangkan Medan tumbuh 3,8% yoy. Kedua kota ini melampaui inflasi 3,55% dan menawarkan real return positif bagi investor.

Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga di level 4,75% mulai menggerakkan segmen yang sensitif terhadap likuiditas. Rumah berukuran kecil (≤60 m²) di Jakarta Pusat mencatat lonjakan harga hingga 36,4% yoy.
“Lonjakan ini mencerminkan pergeseran preferensi ke hunian dengan ticket price lebih terjangkau namun bernilai strategis tinggi, sejalan dengan kebutuhan mobilitas urban,” kata Marisa. (SA/GIT)
Leave a comment