Home Uncategorized Prabowonomics vs. Dengism: Catatan Atas Kuliah Raymond Thomas Dalio
Uncategorized

Prabowonomics vs. Dengism: Catatan Atas Kuliah Raymond Thomas Dalio

Share
Share

(Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

Prabowo Subianto mengundang investor global Raymond Dalio memberi kuliah di istana kepresidenan beberapa hari lalu. Ray (Raymond) menjelaskan bahwa situasi Indonesia saat ini tepat pada posisi potensial untuk tinggal landas dan dalam leadership yang tepat, meski harus mengatasi beberapa tantangan. Situasi tersebut terkait utang Indonesia yang masih rendah, kemampuan untuk mendapatkan support investor asing dan segala potensi ekonomi lainnya yang baik. Namun, beberapa tantangan seperti korupsi dan birokrasi yang lamban, harus dapat diatasi. Ray melihat bahwa Prabowo memiliki kemampuan untuk menjalankan transformasi, karena sosok Prabowo mirip Deng Xiaoping di China, katanya.

Jika kita melakukan searching tentang “Ray dan Deng Xiaoping”, ternyata Ray telah berulang kali menyebut kepemimpinan Deng Xiaoping sebagai referensi penting bagi kesuksesan sebuah negara untuk maju. Pada tahun 2023, Ray menyematkan hal itu pada Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan pada tahun 2024 terhadap Pangeran MBS, Saudi Arabia. Ray yang mengklaim pernah berinteraksi dengan Deng, tentu melihat jalan Deng adalah jalan yang tepat untuk sebuah kemajuan. Meskipun Deng adalah tokoh RRC era 80-90 an, namun dalam analisa kontemporer, Ray memasukkan point perubahan teknologi, khususnya Artificial Intelligent, sangat penting dimasukkan sebagai unsur analisis saat ini.

Prabowo dan Deng Xiaoping tentu mempunyai kesamaan, sebagaimana imajinasi Ray. Namun, keduanya juga tentunya berbeda. Begitu pula latarbelakang persoalan negara yang sedang mereka hadapi, baik internal maupun internasional.

Dengism adalah sebuah istilah yang disematkan untuk pandangan politik dan ekonomi Deng. Beberapa hal yang penting untuk diketahui dari Dengism adalah Pertama, Deng menolak “class struggle”.

Berbeda dengan Mao Zedong, pemimpin revolusi China, yang taat pada ajaran Marxisme -Leninisme, yakni perjuangan kelas sampai terwujudnya kekuasaan kaum proletar (popular Masses di Cina), Deng melihat bahwa untuk kemajuan bangsa China hanya bisa dicapai dengan berkompromi kepada sistem kapitalis. Perjuangan ala Mao yang membuat terbunuhnya puluhan juta rakyat China, karena kelaparan (famine 1958-62), merubah cara pandang Deng terhadap jalan Komunisme.

Menurutnya, Komunisme harus dirubah menjadi Sosialisme Berkarakter China, yakni mengadopsi cara-cara kapitalis dalam pembangunan. Deng, yang berkuasa sejak 1978, dengan strategi “Reform and Opening Up” membangun kota-kota tepi pantai selatan secara besar-besaran sebagai kota kota kapitalis. Pembangunan pedesaan yang berbasis komunal direformasi menjadi berbasis keluarga. Teknologi dimajukan. Internasional politik dan ekonomi dibuka. Namun, cara kapitalis ini dikontrol oleh Partai Komunis China alias Negara Komunis. Sehingga, dikenal sebagai State-Capitalism.

Prabowo dan Deng yang tidak anti kapitalis itu, keduanya berasal dari ideologi sosialisme. Namun, kaderisasi Prabowo berada ditangan bapaknya, merujuk pada berbagai statement adiknya, Hashim Djojohadikusumo, sebaliknya Deng Xiaoping mengalami kaderisasi dalam organisasi Partai Komunis China. Hal ini membuat kepemimpinan Prabowo lebih individualistik, sedangkan Deng lebih kolektif.

Kedua, Prabowo dan Deng mempunyai kesamaan mencintai petani, sebagai basis perjuangan. Namun, keduanya berbeda arah. Prabowo meyakini bahwa kolektivisme di pedesaan harus menjadi kekuatan petani. Ini tercermin dari langkah terkini Prabowo membangun 70.000 koperasi di desa. Sebaliknya, Deng, karena trauma dengan kolektivisme era Mao, menghilangkan basis-basis komunal termasuk mengecilkan koperasi di pedesaan. Deng bahkan memberi kesempatan kapitalis masuk ke pedesaan.

Ketiga, Prabowo dan Deng sama-sama ragu soal demokrasi. Pada awal kepemimpinannya Deng Xiaoping mulai memberikan kebebasan kampus-kampus untuk mengkritisi pemerintah. Namun, pada tahun 1989, setelah 11 tahun berkuasa, Deng Xiaoping melakukan pembantaian Tiananmen, dengan ribuan korban, ketika mahasiswa berdemonstrasi. Kejadian ini sebagai tanda kekerasan negara mulai diberlakukan. Prabowo Subianto sendiri sering terlihat ragu, terkadang merespon kritik, seperti kasus pembatalan kenaikan PPN 12%, namun di sisi lain mengejek “ndasmu” kepada pengkritiknya.

Keempat, Prabowo dan Deng Xiaoping memikirkan rencana jangka panjang untuk membuat negaranya menjadi negara besar. Keduanya bukan pencuri. Keduanya anti koruptor. Keduanya tidak terjebak pada nepotisme keluarga, seperti Jokowi, dll. Namun, Deng, memastikan regenerasi kepemimpinan dalam jalur partai. Sebaliknya, Prabowo, akan banyak bersandar pada militer. Terlihat dari rencana penempatan ratusan militer pada program sipil (lihat Tempo edisi terbaru, 200 tentara dilatih di Unhan untuk mengisi jabatan sipil).

Meskipun Prabowo adalah contoh teladan pemimpin yang membangun partai politik sebagai alat perjuangan, namun belum terlihat upaya Prabowo membuat partainya menjadi instrumen utama perjuangan Ideological.

Kelima, Prabowo dan Deng Xiaoping adalah pemimpin besar yang diakui pada level dunia. Namun, keduanya berbeda dalam urusan agama. Meskipun Deng Xiaoping menghapus pasal pelarangan agama di era Mao Zedong, dia tidak pernah menyandarkan agama dalam ideologinya. Sebaliknya, Prabowo memasukkan berbagai sistem kebaikan yang bersumber dari agama dalam ideologinya. Bahkan, dalam berbagai pidatonya, Prabowo memasukkan kata-kata Allah SWT sebagai sumber kepastian tertinggi.

Penutup

Penyamaan Prabowo dan Deng Xiaoping yang dilontarkan konglomerat Investor Guru Raymond Thomas Dalio, di istana Presiden RI beberapa hari lalu, memberi kita kesempatan untuk melihat Indonesia ditangan Prabowo ke depan, dengan membandingkan kedua sosok tersebut. Semua manusia di bumi ini melihat perkembangan China 100 tahun terkahir sangat menakjubkan. China menjadi salah satu negara terkaya di dunia, sekaligus negara paling adil untuk rakyat mereka. Sebaliknya, Indonesia selama ini negara paling kejam terhadap rakyatnya, namun paling memanjakan elit penguasa. Apakah ditangan Prabowo, negara ini akan berguna untuk rakyatnya? Apakah “Kabur Dulu Aja” bisa berbalik? Apakah gaji-gaji milyaran elit BUMN bisa didekatkan besarnya dengan gaji gaji lepas makan kaum buruh pabrik?

Semoga pandangan Ray Dalio atas kepemimpinan Prabowo bisa benar dan mewujudkan cita-cita pendiri bangsa, yakni Kemakmuran Untuk Semua Orang.[•••]

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Uncategorized

1.000 Riders BMW Motorrad Merapat ke Bali, Pertamax Turbo Bawa Kejutan

Bali, Hotfokus.com Bali menjadi titik temu para penggemar BMW Motorrad dari berbagai...

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027
Uncategorized

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai menggeber langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin....

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya? Bambang Sabekti Praktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional setiap 4 September menjadi momentum yang menarik bagi Pelindo. Sebab, tidak lama lagi, tepat 1 Oktober 2026, Pelindo memasuki lima tahun sejak merger empat BUMN pelabuhan. Lima tahun bukan lagi sekadar masa transisi. Periode ini sudah cukup untuk melihat apakah integrasi organisasi telah menghasilkan kemampuan operasional dan nilai bisnis yang lebih baik. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah merger Pelindo berhasil menyatukan organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa incremental value setelah Pelindo menjadi satu? Jawabannya perlu dilihat setidaknya dari dua sisi: operational excellence dan customer value. Dalam bisnis pelabuhan, operational excellence tidak cukup dimaknai sebagai meningkatnya produktivitas satu terminal. Pelabuhan merupakan sistem yang melibatkan kapal, terminal, peralatan, tenaga kerja, gate, yard, trucking, serta berbagai proses pelayanan. Operational excellence berarti kemampuan mengelola proses tersebut secara efisien, konsisten, reliable, dan predictable. Kapal membutuhkan kepastian berth. Bongkar muat membutuhkan produktivitas peralatan. Kontainer membutuhkan yard yang dikelola dengan baik. Truk membutuhkan proses gate yang lancar. Pengguna jasa membutuhkan informasi yang akurat dan keputusan operasional yang cepat. Satu titik yang tidak efisien dapat mengurangi manfaat efisiensi pada titik lainnya. Di sinilah merger memberikan peluang besar. Dengan berada dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki kesempatan mengembangkan common operating standard, berbagi best practices, mengoptimalkan aset dan kapasitas, serta menggunakan data dan teknologi secara lebih terintegrasi. Namun, standardisasi bukan tujuan akhir. Bagi pelanggan, salah satu manfaat paling fundamental dari merger seharusnya adalah ease of doing business. Sebelum merger, pengguna jasa berhadapan dengan entitas Pelindo yang berbeda sesuai wilayah dan pelabuhannya. Setelah merger, pelanggan secara logis mengharapkan pengalaman berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih sederhana: standar semakin jelas, proses semakin seragam, akses informasi semakin mudah, dan tidak perlu menghadapi variasi proses yang sebenarnya tidak memberikan nilai tambah. Inilah salah satu acid test merger: APAKAH MENJADI PELANGGAN PELINDO SEKARANG LEBIH MUDAH DARIPADA SEBELUMNYA? Pertanyaan tersebut bukan sekadar soal keramahan pelayanan. Ease of doing business menyangkut waktu, jumlah tahapan, transparansi, kepastian keputusan, kemudahan akses layanan, serta kemampuan pelanggan menyelesaikan urusannya tanpa proses yang berulang. Dengan perspektif yang sama, digitalisasi juga harus diukur dari manfaatnya bagi pelanggan. Keberhasilan digitalisasi bukan berapa banyak aplikasi yang dimiliki, tetapi berapa banyak proses yang menjadi lebih sederhana dan berapa banyak interaksi yang tidak lagi diperlukan pelanggan. Di sinilah operational excellence bertemu dengan customer value. Dalam bisnis kepelabuhanan, customer value dapat dilihat dari hal yang konkret: waktu yang lebih singkat, proses yang lebih sederhana, biaya yang lebih efisien, dan kepastian yang lebih tinggi. Merger juga memberikan peluang untuk mengelola Pelindo sebagai port network, bukan sekadar kumpulan terminal. Dengan jaringan nasional dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan kapasitas antarpelabuhan, berbagi best practices, mengurangi ketidakseimbangan utilisasi, dan memperkuat konektivitas antarkawasan. Namun, network advantage baru menjadi value apabila pelanggan dapat merasakannya dalam bentuk layanan yang lebih baik dan proses bisnis yang lebih mudah. Karena itu, ukuran keberhasilan merger juga harus tetap berada dalam scope Pelindo. Pelindo tidak menentukan surplus atau defisit perdagangan dan tidak dapat sendirian menyelesaikan seluruh persoalan biaya logistik nasional. Ukuran yang lebih fair adalah: seberapa besar efisiensi, reliability, dan kemudahan berusaha yang berhasil diciptakan pada bagian rantai logistik yang berada dalam kendali Pelindo? Memasuki tahun kelima merger, pertanyaan tersebut semakin relevan. Jika lima tahun pertama merupakan periode konsolidasi dan integrasi, lima tahun berikutnya semestinya menjadi fase untuk membuktikan incremental value of integration. Hari Pelanggan Nasional dapat menjadi reality check yang sederhana. Pelanggan adalah pihak yang paling tepat untuk menilai apakah perubahan internal perusahaan benar-benar menghasilkan perubahan yang mereka rasakan. Pada akhirnya, Pelindo tidak cukup hanya menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih terintegrasi. MERGER HARUS MEMBUAT PELANGGAN LEBIH MUDAH BERBISNIS DENGAN PELINDO. Kemudahan tersebut harus didukung oleh operasi yang semakin reliable, produktif, efisien, dan predictable. Pelindo sudah memiliki skala dan jaringan nasional. Tantangan lima tahun berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi operational excellence, operational excellence menjadi customer value, dan customer value menjadi ease of doing business. Itulah makna Hari Pelanggan Nasional yang relevan bagi Pelindo: bukan sekadar merayakan pelanggan, tetapi memastikan bahwa setelah lima tahun merger, pelanggan benar-benar merasakan bahwa berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih mudah.[•]
Uncategorized

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya?

Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional...

Uncategorized

Elang Jawa Diselamatkan, PGE Raih Penghargaan HKAN 2026

Jakarta, hotfokus.com Komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam menjaga satwa...