Home Uncategorized Diam-diam Ternyata Ferdinand Hutahaean Sudah Islam sejak 4 Tahun Lalu, Ini Kesaksiannya
Uncategorized

Diam-diam Ternyata Ferdinand Hutahaean Sudah Islam sejak 4 Tahun Lalu, Ini Kesaksiannya

Share
Share

Jakarta, Hotfokus.com

Eks Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean kini kembali menjadi sorotan. Pasca cuitannya yang diduga menista agama viral, kini dia mengaku bahwa dirinya telah berpindah agama menjadi Islam atau mualaf sejak 2017 lalu.

Ferdinand mengklaim bahwa mantan Ketua Umum MUI Ali Yafie yang membimbingnya membaca syahadat, tanda memeluk agama Islam. Sementara salah satu figur yang saat itu hadir ketika prosesinya menjadi mualaf adalah Lili Chodijah Wahid, adik kandung mantan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Lily Wahid yang dihubungi membenarkan klaim Ferdinand tersebut. Lily mengatakan dirinya saat itu kebetulan salah seorang dari menyaksikan prosesi Ferdinand menjadi mualaf.

“Ya dia bersyahadat di depan kiai, dan saya kebetulan menyaksikan prosesinya dari awal hingga akhir. Saat itu saya pikir dia memang serius ingin jadi mualaf. kata Lily saat dihubungi, Sabtu (08/1/2022).

Terkait soal kasus cuitan kontroversial yang dihadapi Ferdinand , Lily Wahid mengatakan :
“Menurut saya biar saja ferdinan menghadapi proses hukum yang akan terjadi padanya ” ucap Lily.

Terkait adanya kabar bahwa Ferdinan juga menikah secara islam , Hotfokus berhasil mewawancarai salah satu saksi yang hadir pada proses akad nikah Ferdinand, Ust.H.Abdul Hakim Azmatkhan , yang membenarkan jika mantan juru bicara Partai Demokrat tersebut melangsungkan pernikahan secara Islam pada 28 Maret 2018.

“Sebelum proses akad nikah dimulai, penghulu yang memimpin hijab kabul Ferdinan mempertanyakan status agamanya dan dikatakan bahwa sudah menjadi mualaf sejak 2017. Namun sesuai kewajiban yang berlaku dalam pernikahan menurut tuntunan agama islam , dia tetap diminta untuk mengucapkan syahadat lagi,” kata Hakim saat dihubungi Hotfokus.com, Sabtu (08/1/2022).

Dihubungi terpisah, Ferdinand Hutahaean mengaku dirinya telah menjadi pemeluk agama Islam (mualaf). Hal ini diungkapnya di tengah penyidikan kasus cuitan kontroversial nya.

Ferdinand sendiri mengaku akan memenuhi panggilan tersebut. Dalam rangkaian pernyataan yang sama, dia mengaku seorang muslim. “Yang membimbing syahadatnya KH Ali Yafie kala itu,” kata Ferdinand kepada Hotfokus.com, Sabtu (07/1/2022).

“Orang tidak pernah tabayyun bertanya kepada saya, saya itu siapa? Saya ini juga sebagai seorang muslim sudah mualaf sejak 2017” ujar Ferdinan.

Ia menambahkan, saat prosesi menjadi mualaf, turut disaksikan salah seorang diantaranya oleh adik kandung mantan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yakni Ibu Lily Chodijah Wahid.

Namun, kata Ferdinand, yang telah beragama Islam , hal ini tidak pernah diungkapkan nya kepada publik. Ia menyebutkan, hanya orang terdekatnya saja yang tahu bahwa dirinya seorang Islam.

“Saya memang tak pernah mendeklarasikan diri saya, saya sudah mualaf saya ini. 2017 saya mualaf didampingi oleh Bu Lily Wahid. Adiknya Gus Dur almarhum. “Tapi saya tidak perlu mendeklarasikan itu secara terbuka kebanyak orang. Hanya orang-orang dekat saya saja yang tahu saya seorang muslim. Saya seorang mualaf,” tambahnya.

Ia juga mengaku sedang mempelajari tentang agama Islam sejak 2017 lalu sejak dirinya resmi menjadi seorang mualaf. Namun, dia mengakui bahwa dirinya belumlah seorang penganut agama Islam yang taat” , tutupnya (HFK)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Uncategorized

1.000 Riders BMW Motorrad Merapat ke Bali, Pertamax Turbo Bawa Kejutan

Bali, Hotfokus.com Bali menjadi titik temu para penggemar BMW Motorrad dari berbagai...

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027
Uncategorized

Bahlil Gaspol! BBM Bensin Wajib Campur Bioetanol E10 Mulai 2027

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah mulai menggeber langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin....

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya? Bambang Sabekti Praktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional setiap 4 September menjadi momentum yang menarik bagi Pelindo. Sebab, tidak lama lagi, tepat 1 Oktober 2026, Pelindo memasuki lima tahun sejak merger empat BUMN pelabuhan. Lima tahun bukan lagi sekadar masa transisi. Periode ini sudah cukup untuk melihat apakah integrasi organisasi telah menghasilkan kemampuan operasional dan nilai bisnis yang lebih baik. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah merger Pelindo berhasil menyatukan organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa incremental value setelah Pelindo menjadi satu? Jawabannya perlu dilihat setidaknya dari dua sisi: operational excellence dan customer value. Dalam bisnis pelabuhan, operational excellence tidak cukup dimaknai sebagai meningkatnya produktivitas satu terminal. Pelabuhan merupakan sistem yang melibatkan kapal, terminal, peralatan, tenaga kerja, gate, yard, trucking, serta berbagai proses pelayanan. Operational excellence berarti kemampuan mengelola proses tersebut secara efisien, konsisten, reliable, dan predictable. Kapal membutuhkan kepastian berth. Bongkar muat membutuhkan produktivitas peralatan. Kontainer membutuhkan yard yang dikelola dengan baik. Truk membutuhkan proses gate yang lancar. Pengguna jasa membutuhkan informasi yang akurat dan keputusan operasional yang cepat. Satu titik yang tidak efisien dapat mengurangi manfaat efisiensi pada titik lainnya. Di sinilah merger memberikan peluang besar. Dengan berada dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki kesempatan mengembangkan common operating standard, berbagi best practices, mengoptimalkan aset dan kapasitas, serta menggunakan data dan teknologi secara lebih terintegrasi. Namun, standardisasi bukan tujuan akhir. Bagi pelanggan, salah satu manfaat paling fundamental dari merger seharusnya adalah ease of doing business. Sebelum merger, pengguna jasa berhadapan dengan entitas Pelindo yang berbeda sesuai wilayah dan pelabuhannya. Setelah merger, pelanggan secara logis mengharapkan pengalaman berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih sederhana: standar semakin jelas, proses semakin seragam, akses informasi semakin mudah, dan tidak perlu menghadapi variasi proses yang sebenarnya tidak memberikan nilai tambah. Inilah salah satu acid test merger: APAKAH MENJADI PELANGGAN PELINDO SEKARANG LEBIH MUDAH DARIPADA SEBELUMNYA? Pertanyaan tersebut bukan sekadar soal keramahan pelayanan. Ease of doing business menyangkut waktu, jumlah tahapan, transparansi, kepastian keputusan, kemudahan akses layanan, serta kemampuan pelanggan menyelesaikan urusannya tanpa proses yang berulang. Dengan perspektif yang sama, digitalisasi juga harus diukur dari manfaatnya bagi pelanggan. Keberhasilan digitalisasi bukan berapa banyak aplikasi yang dimiliki, tetapi berapa banyak proses yang menjadi lebih sederhana dan berapa banyak interaksi yang tidak lagi diperlukan pelanggan. Di sinilah operational excellence bertemu dengan customer value. Dalam bisnis kepelabuhanan, customer value dapat dilihat dari hal yang konkret: waktu yang lebih singkat, proses yang lebih sederhana, biaya yang lebih efisien, dan kepastian yang lebih tinggi. Merger juga memberikan peluang untuk mengelola Pelindo sebagai port network, bukan sekadar kumpulan terminal. Dengan jaringan nasional dalam satu perusahaan, Pelindo memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan kapasitas antarpelabuhan, berbagi best practices, mengurangi ketidakseimbangan utilisasi, dan memperkuat konektivitas antarkawasan. Namun, network advantage baru menjadi value apabila pelanggan dapat merasakannya dalam bentuk layanan yang lebih baik dan proses bisnis yang lebih mudah. Karena itu, ukuran keberhasilan merger juga harus tetap berada dalam scope Pelindo. Pelindo tidak menentukan surplus atau defisit perdagangan dan tidak dapat sendirian menyelesaikan seluruh persoalan biaya logistik nasional. Ukuran yang lebih fair adalah: seberapa besar efisiensi, reliability, dan kemudahan berusaha yang berhasil diciptakan pada bagian rantai logistik yang berada dalam kendali Pelindo? Memasuki tahun kelima merger, pertanyaan tersebut semakin relevan. Jika lima tahun pertama merupakan periode konsolidasi dan integrasi, lima tahun berikutnya semestinya menjadi fase untuk membuktikan incremental value of integration. Hari Pelanggan Nasional dapat menjadi reality check yang sederhana. Pelanggan adalah pihak yang paling tepat untuk menilai apakah perubahan internal perusahaan benar-benar menghasilkan perubahan yang mereka rasakan. Pada akhirnya, Pelindo tidak cukup hanya menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih terintegrasi. MERGER HARUS MEMBUAT PELANGGAN LEBIH MUDAH BERBISNIS DENGAN PELINDO. Kemudahan tersebut harus didukung oleh operasi yang semakin reliable, produktif, efisien, dan predictable. Pelindo sudah memiliki skala dan jaringan nasional. Tantangan lima tahun berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi operational excellence, operational excellence menjadi customer value, dan customer value menjadi ease of doing business. Itulah makna Hari Pelanggan Nasional yang relevan bagi Pelindo: bukan sekadar merayakan pelanggan, tetapi memastikan bahwa setelah lima tahun merger, pelanggan benar-benar merasakan bahwa berbisnis dengan Pelindo menjadi lebih mudah.[•]
Uncategorized

Hari Pelanggan dan Lima Tahun Merger Pelindo Sudahkah Pelanggan Merasakan Manfaatnya?

Bambang SabektiPraktisi Kepelabuhanan dan Logistik Nasional 4 September 2026 Hari Pelanggan Nasional...

Uncategorized

Elang Jawa Diselamatkan, PGE Raih Penghargaan HKAN 2026

Jakarta, hotfokus.com Komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam menjaga satwa...