Jakarta, Hotfokus.com
Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan dan berpotensi menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan. Penguatan dolar AS dan sejumlah faktor domestik menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Garuda.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan dolar AS terus menguat setelah sejumlah indikator ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan hasil yang positif. Revisi final produk domestik bruto (PDB) kuartal I serta penurunan angka pengangguran memperkuat sentimen pasar.
“Ini membuat indeks dolar menguat tajam,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti juga mencatat hasil yang baik. Kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa Bank Sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga hingga dua kali sepanjang 2026.

“Target dolar sendiri kemungkinan besar di 102,6, sehingga wajar bila dolar terus menguat,” katanya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga datang dari potensi kenaikan inflasi. Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar non-subsidi berpotensi memicu lonjakan biaya transportasi yang kemudian berdampak pada harga kebutuhan pokok.
“Kenaikan harga transportasi membuat harga bahan pokok melonjak, dan ini akan berdampak terhadap inflasi,” jelasnya.
Selain itu, Ibrahim memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan menurun akibat intervensi aktif Bank Indonesia. Di sisi lain, indeks manufaktur PMI berpotensi berada di bawah level 50 yang mengindikasikan kontraksi, sehingga dapat menekan neraca berjalan dan memperbesar defisit anggaran yang kini mendekati batas 3 persen dari PDB. (DIN/GIT)
Leave a comment