Jakarta, Hotfokus.com
Pertamina (Persero) membuka peluang baru dalam pengembangan energi rendah karbon dengan menjajaki pemanfaatan limbah lemak, minyak, dan pelumas atau Fat, Oil, and Grease (FOG). Bersama PAL Jaya, perusahaan mengkaji kemungkinan menjadikan material tersebut sebagai bahan baku biofuel, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk penerbangan.
Keseriusan kedua pihak terlihat dari penandatanganan nota kesepahaman oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Utama PAL Jaya Untung Suryadi. Penandatanganan berlangsung di Balai Agung, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Senin (12/10).
Kolaborasi ini mempertemukan sektor energi dengan pengelolaan air limbah untuk mencari alternatif bahan baku yang berpotensi memiliki nilai ekonomi. Pertamina dan PAL Jaya akan menelusuri potensi FOG yang dihasilkan maupun dikelola PAL Jaya sebelum menentukan peluang kerja sama lanjutan.

Limbah Berpotensi Jadi Bahan Baku Energi
Pertamina melihat penjajakan ini sebagai bagian dari pengembangan bisnis rendah karbon atau low-carbon business. Melalui pendekatan waste to energy, limbah berpeluang memperoleh manfaat baru, alih-alih hanya menjadi material yang perlu ditangani.
Inisiatif tersebut juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yang mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal. Jika hasil kajian menunjukkan potensi yang menjanjikan, FOG dapat menjadi salah satu opsi bahan baku alternatif untuk pengembangan biofuel.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menegaskan bahwa kerja sama ini berkaitan dengan agenda transisi energi perusahaan.
“Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan bagian dari inisiatif Pertamina menuju transisi energi bersih, sekaligus mendukung upaya pencapaian target emisi rendah karbon secara berkelanjutan,” ujar Oki, Senin (12/10).
Pengembangan SAF Masih dalam Tahap Penjajakan
Salah satu peluang yang dikaji ialah pemanfaatan FOG untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel atau SAF. Bahan bakar penerbangan berkelanjutan ini masuk dalam cakupan potensi pengembangan biofuel yang menjadi fokus penjajakan kedua pihak.
Meski begitu, penandatanganan nota kesepahaman belum berarti Pertamina dan PAL Jaya langsung menerapkan pemanfaatan FOG secara komersial. Keduanya masih perlu mengkaji potensi bahan baku tersebut untuk menentukan peluang pengembangan berikutnya.

Proses kajian juga akan membantu kedua pihak mengidentifikasi potensi nilai tambah dari pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Dengan demikian, kerja sama ini menjadi langkah awal untuk mengeksplorasi sumber bahan baku alternatif bagi bisnis energi rendah karbon. (*)
Leave a comment