DEPOK — Kepala Staf Kepresidenan Dr Moeldoko menjawab kritik tentang mengapa pemerintah banyak membangun infrastruktur di luar Jawa. Pembangunan jalan-jalan perbatasan di Kalimantan hingga Papua itu dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.
“Kalau politikus yang mencari suara, cukup bangun Jawa, tapi Presiden seorang negarawan yang ingin membangun konektivitas di daerah-daerah yang terisolasi,” kata Moeldoko saat memberikan sambutan dalam peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhamad SAW dan Harlah Pondok Pesantren Assa’adah di Cipayung, Kota Depok, Minggu (15/4).
Lebih lanjut Moeldoko menjelaskan, dengan membangun infrastruktur di luar Jawa maka konsep pembangunan Jawa Sentris di masa pemimpin terdahulu telah diubah menjadi Indonesia Sentris oleh Joko Widodo.
“Jika daerah terisolasi, maka pendidikan rendah, kesehatan tidak dijamin. Dengan infrastruktur, maka perubahan akan terjadi. Peradaban berkembang, pendidikan dan kesehatan terlayani dengan baik,” jelasnya.
Selain itu, dampak pembangunan infrastruktur di luar Jawa seperti daerah perbatasan menumbuhkan nasionalisme masyarakat dan cinta kepada Indonesia. Sebelumnya masyarakat di daerah-daerah itu merasa tidak diperhatikan.
Tak hanya infrastruktur, mantan Panglima TNI itu menambahkan, banyak hal-hal yang dilakukan pemerintah guna meningkatkan sumber daya manusia. Di bidang pendidikan, pemerintah memberikan Kartu Indonesia Pintar (KIP), kesehatan dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS), juga pemberian bantuan non tunai dengan Program Keluarga Harapan (PKH).
“Program satu harga untuk BBM juga bukti. Dulu di Papua harga BBM bisa 60 ribu sekarang sama dengan Jawa. Ada juga program sertifikat tanah yang sudah dinikmati masyarakat. Memang belum cukup, dan belum sempurna. Itu akan terus kita benahi karena membangun sebuah negara yang besar perlu proses,” terang Moeldoko. (kn)
Leave a comment