Jakarta, Hotfokus.com
Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi membagikan pengalaman Indonesia dalam mengembangkan pembiayaan dana bergulir pada Pertemuan ke-32 ACEDAC dan ke-27 ASWGAC di Yogyakarta, 12–13 Oktober 2026. Forum ini berfokus pada penguatan koperasi pertanian kawasan ASEAN melalui akses pembiayaan terjangkau, pemberdayaan perempuan, dan digitalisasi.
Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman menegaskan pentingnya pembiayaan yang adil bagi ekosistem pertanian dan ketahanan pangan. Menurutnya ketahanan pangan tidak hanya dibangun di lahan pertanian, tetapi juga perlu dukungan akses pembiayaan yang adil dan terjangkau bagi para pelaku yang menggerakkannya.
“Koperasi memiliki peran penting untuk menghubungkan produksi petani dengan pasar sekaligus memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Deva, Kamis (15/10/2026).
Salah satu program yang menarik perhatian para delegasi ASEAN adalah model Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang bertindak sebagai aggregator, konsolidator, serta off-taker hasil pertanian. Untuk mendukung sektor riil, LPDB Koperasi menawarkan tarif jasa murah mulai dari 3 persen (sliding rate) tanpa biaya administrasi dan provisi.
Sejak 2008 hingga Oktober 2026, LPDB telah menyalurkan dana bergulir Rp22,91 triliun kepada 3.930 koperasi mitra. Pada 2026, pembiayaan sektor pertanian melonjak tujuh kali lipat dibanding 2021 mencapai Rp379,28 miliar. Sementara itu, pembiayaan khusus koperasi perempuan telah menembus Rp542,64 miliar yang menjangkau lebih dari 363.000 anggota.
Dalam kesempatan tersebut, Deva menyodorkan lima agenda strategis untuk Plan of Action ACEDAC 2027, meliputi pemanfaatan AI dan teknologi digital, adaptasi perubahan iklim, pelibatan generasi muda, penanganan penuaan petani, serta integrasi data melalui marketplace ACEDAC.

Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah Business Forum ACEDAC 2027, sementara Pertemuan Dewan ACEDAC berikutnya akan diselenggarakan di Laos. (DIN/GIT)
Leave a comment