Home EKONOMI Kajian EIU: Negara Yang Lambat Lakukan Vaksinasi, Bakal Merugi
EKONOMINASIONAL

Kajian EIU: Negara Yang Lambat Lakukan Vaksinasi, Bakal Merugi

Share
Kajian EIU: Negara Yang Lambat Lakukan Vaksinasi, Bakal Merugi
Share

Jakarta, Hotfokus.com

The Economist Intelligence Unit (EIU) menerbitkan perkiraan global untuk Kuartal III-2021 yang menguraikan konsekuensi ekonomi, politik, dan geopolitik dari ketidakadilan vaksin.

Laporan tersebut menyoroti bahwa negara-negara yang belum melakukan vaksinasi terhadap 60 persen populasi mereka di pertengahan 2022, akan mencatat kerugian PDB hingga mencapai US$D2,3 triliun pada 2022-2025.

Dalam rilis EIU tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang disoroti tersebut. EIU memprediksi, Indonesia baru akan mencapai lebih dari 60 persen populasi yang di vaksin pada tahun 2023.

“Secara absolut, Asia akan menjadi benua yang paling terpengaruh oleh jadwal vaksinasi yang tertunda (dengan kerugian kumulatif sebesar USD1,7 miliar). Sebagai bagian dari PDB, negara-negara di Afrika sub-Sahara mencatat kerugian tertinggi (total 3 persen dari perkiraan PDB kawasan pada 2022-25),” demikian pernyataan Agathe Demarais, Direktur Prakiraan Global EIU dan penulis laporan tersebut, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Hotfokus.com, Rabu (25/8/2021).

Agathe mengatakan, ada sedikit kemungkinan bahwa kesenjangan akses ke vaksin akan pernah dijembatani. COVAX, inisiatif yang disponsori WHO untuk mengirimkan vaksin ke negara-negara berkembang, telah gagal memenuhi harapan (sederhana). Meskipun siaran pers menyanjung, sumbangan dari negara-negara kaya juga hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan.

“Akhirnya, fokus di negara maju bergeser ke pemberian dosis booster vaksin virus corona, yang akan menambah kekurangan bahan baku dan kemacetan produksi,” tuturnya.

Agathe menambahkan, selama setahun terakhir, para pemimpin politik sibuk menanggapi keadaan darurat jangka pendek, sementara pandemi berkecamuk.

“Mereka sekarang perlu merancang strategi jangka panjang untuk mengatasi virus corona, karena hidup dengan Covid akan menjadi normal baru. Di sini sekali lagi, kesenjangan kaya-miskin akan sangat mencolok, negara bagian yang divaksinasi, negara bagian yang lebih kaya akan memiliki pilihan, sementara negara bagian yang lebih miskin yang tidak divaksinasi tidak akan memiliki pilihan,” pungkasnya. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Pemerintah dorong hilirisasi lewat KEK Gresik. Investasi tembus USD6,1 miliar, sektor manufaktur jadi motor utama.
NASIONAL

KEK Gresik Makin Moncer, Pemerintah Gaspol Hilirisasi Lewat Pabrik Melamin

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah mempercepat penguatan hilirisasi industri untuk mendorong transformasi ekonomi nasional....

Ekonomi RI Tahan Guncangan Global, Airlangga: Konsumsi Kuat dan APBN Solid
EKONOMI

Ekonomi RI Tahan Guncangan Global, Airlangga: Konsumsi Kuat dan APBN Solid

Jakarta, Hotfokus.com Pemerintah optimistis kondisi ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan...

APCS 2026 Belawan jadi ajang promosi UMKM untuk menembus pasar global dan tingkatkan daya saing produk lokal.
EKONOMI

APCS 2026 Belawan Jadi Panggung UMKM, Produk Lokal Tembus Pasar Global

Jakarta, hotfokus.com Kementerian UMKM memanfaatkan ajang ASEAN Plus Cadet Sail (APCS) 2026...

NASIONAL

UU Perlindungan Konsumen Kurang ‘Bergigi’. Mendag: Perlu Direvisi

Jakarta, hotfokus.com Pemerintah mengaku Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) No 8/1999 masih kurang...