Semarang, Hotfokus.com
Gunung Ungaran, Jawa Tengah, menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam agenda pengembangan panas bumi untuk memperkuat pasokan energi sekaligus mendorong penggunaan energi rendah emisi.
Pemerintah telah memberikan penugasan kepada PT PLN (Persero) untuk mengembangkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ungaran dengan potensi kapasitas hingga 55 megawatt (MW).
Rencana tersebut dibahas dalam Dialog Stakeholders Panas Bumi Gunung Ungaran yang berlangsung di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Kamis (17/9). Pertemuan itu melibatkan unsur legislatif, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait.
Panas Bumi Jadi Energi Andalan
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mengatakan Indonesia membutuhkan sumber energi yang mampu menjaga ketahanan pasokan sekaligus menjawab kenaikan kebutuhan energi.
Menurut Sugeng, panas bumi memiliki karakter berbeda karena dapat menghasilkan listrik secara berkelanjutan dan berperan sebagai sumber listrik beban dasar atau base-load.

“Kalau kita bicara energi, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu energy security, affordability, dan sustainability. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujar Sugeng.
Ia menyebut Indonesia mempunyai potensi panas bumi sekitar 24,7 gigawatt (GW). Potensi tersebut menjadi salah satu modal energi terbarukan karena dapat menghasilkan listrik selama 24 jam dengan emisi rendah.
Meski demikian, pemanfaatannya tetap membutuhkan perhatian terhadap kawasan hutan serta kondisi sosial dan budaya di wilayah pengembangan.
Kapasitas Geothermal Didorong Naik
Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Priatin Hadi Wijaya mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas pembangkit panas bumi nasional.
Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut mencapai sekitar 4,1 GW pada 2030 dan meningkat menjadi sekitar 7,5 GW pada 2034. Sementara itu, target jangka panjang mencapai sekitar 23 GW pada 2060 guna mendukung sasaran Net Zero Emission.

“Panas bumi ini merupakan salah satu energi terbarukan yang andal karena dapat menjadi base-load, sehingga dapat beroperasi secara berkelanjutan untuk mendukung sistem kelistrikan,” kata Hadi.
Untuk WKP Ungaran, proses pengembangan masih berada dalam tahap studi. Pemerintah membutuhkan serangkaian kajian dan eksplorasi sebelum memastikan besaran potensi serta lokasi sumur yang akan dibor.
WKP Ungaran Punya Luas 29.800 Hektare
Executive Vice President Panas Bumi PLN John Rembet mengatakan penugasan pengembangan WKP Ungaran berasal dari Keputusan Menteri ESDM Nomor 134 Tahun 2026.
Mengacu pada RUPTL 2025–2034, kawasan tersebut memiliki kapasitas pengembangan hingga 55 MW. Adapun luas WKP Ungaran mencapai sekitar 29.800 hektare.
Namun, luas wilayah kerja itu tidak berarti seluruh lahannya akan menjadi area pembangunan fasilitas panas bumi. PLN akan menentukan lokasi fasilitas berdasarkan kebutuhan teknis dan hasil kajian.
“Luas wilayah kerja memang sekitar 29.800 hektare, tetapi bukan berarti kita mengembangkannya di seluruh luasan itu. Tapak yang digunakan untuk fasilitas panas bumi relatif terbatas dan akan ditentukan berdasarkan hasil kajian,” ujar John.
Tahapan berikutnya mencakup studi awal, feasibility study, kajian sosial dan lingkungan, proses perizinan, pengadaan lahan jika diperlukan, hingga kegiatan eksplorasi.
PLN Soroti Manfaat untuk Masyarakat
Pengembangan Gunung Ungaran tidak hanya berkaitan dengan tambahan pasokan listrik. PLN juga melihat peluang agar pemanfaatan panas bumi dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja.
Karena itu, PLN akan melakukan social mapping dan membuka pembahasan dengan berbagai pihak yang berkepentingan di kawasan tersebut.
“Pengembangan panas bumi bukan hanya sekadar mendukung transisi energi maupun penyediaan tenaga listrik, tetapi bagaimana juga berdampak positif untuk masyarakat sekitar,” ujar John.
Selain aspek sosial, PLN akan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keberadaan kawasan bernilai budaya, termasuk Candi Gedong Songo. Penetapan titik pengeboran maupun lokasi fasilitas akan mengikuti hasil kajian dan aturan yang berlaku.
Ahli Geothermal Departemen Fisika Fakultas Sains dan Matematika Undip Agus Setyawan mengatakan penelitian mengenai potensi panas bumi Gunung Ungaran telah berlangsung sejak 2002.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya indikasi sistem panas bumi di kawasan tersebut. Namun, pengembangan lebih lanjut tetap membutuhkan tambahan data dan kajian untuk memastikan potensi serta lokasi yang sesuai. (*)
Leave a comment