Jakarta, Hotfokus.com
Titik panas atau hotspot yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turun tajam pada pertengahan Oktober 2026. Namun, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian khusus, terutama Sumatera Selatan yang mencatat lonjakan hotspot.
Kementerian Kehutanan mencatat jumlah hotspot nasional pada 13 Oktober 2026 turun menjadi 244 titik, dari 1.085 titik pada hari sebelumnya. Penurunan sebesar 77,5% dalam 24 jam tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam upaya pengendalian karhutla.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa penurunan titik panas tidak membuat pemerintah mengendurkan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Hotspot Karhutla Oktober Capai 7.519 Titik
Berdasarkan data pemantauan hingga pukul 21.00 WIB pada 13 Oktober 2026, akumulasi hotspot nasional selama 1–13 Oktober mencapai 7.519 titik. Puncak harian terjadi pada 8 Oktober 2026 dengan 1.029 titik panas.
Sebagai perbandingan, periode 17–30 September 2026 mencatat akumulasi 9.080 hotspot. Pada periode tersebut, rata-rata titik panas mencapai 649 titik per hari, dengan puncak harian sebanyak 1.843 titik pada 20 September 2026.
Data tersebut menunjukkan jumlah akumulasi hotspot pada dua periode itu berbeda. Meski begitu, pemerintah terus memantau perkembangan titik panas untuk memastikan upaya pengendalian karhutla berjalan secara konsisten.
Sumatera Selatan Jadi Perhatian, Hotspot Naik 92%
Di tengah penurunan hotspot secara nasional, Sumatera Selatan justru menunjukkan tren yang perlu diwaspadai. Kementerian Kehutanan mencatat kenaikan hotspot di provinsi tersebut sebesar 92% ketika membandingkan periode 17–30 September dengan 1–13 Oktober 2026.
Ristianto menyebut enam provinsi prioritas secara keseluruhan mengalami penurunan hotspot sebesar 11%. Namun, kondisi Sumatera Selatan membutuhkan perhatian khusus agar penanganan karhutla tetap berjalan optimal.
“Secara total enam provinsi (prioritas), ini ada penurunan 11 persen, dan memang perhatian khusus itu ada di Sumatera Selatan. Kalau kita bandingkan periode 17-30 September dan 1-13 Oktober, hotspot di Sumatera Selatan ada peningkatan 92 persen,” ujar Ristianto dalam konferensi pers, Rabu (14/10).
Pemerintah Tetap Waspada Meski Titik Panas Turun
Kementerian Kehutanan menilai penurunan hotspot harian secara nasional menjadi perkembangan positif dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, pemerintah tetap melanjutkan upaya pemadaman dan pemantauan, terutama di wilayah yang menunjukkan peningkatan titik panas.

Dengan perkembangan tersebut, pemerintah menghadapi dua kondisi sekaligus: penurunan hotspot nasional yang signifikan dan kenaikan titik panas di Sumatera Selatan. Karena itu, kewaspadaan tetap menjadi kunci agar penanganan karhutla tidak kehilangan momentum. (SA/GIT)
Leave a comment