Home OPINI Perverse Incentive Policies.
OPINI

Perverse Incentive Policies.

Share
Share

{ Negeri yang Memelihara Masalah }

Oleh : Andi N Sommeng

Ketika sistem justru memberi hadiah kepada masalah.
Banyak persoalan negeri ini bukan karena kita tidak tahu solusinya. Masalahnya lebih subtil; terlalu banyak sistem yang justru memberi insentif agar masalah tetap ada .
Ekonom menyebutnya perverse incentive, insentif yang niat awalnya baik, tetapi hasil akhirnya mendorong perilaku yang salah.
Kita ingin kebakaran dicegah, tetapi anggaran besar justru mudah keluar setelah api membesar. Kita ingin birokrasi hemat, tetapi unit yang tidak menghabiskan anggaran dianggap gagal menyerap. Kita ingin masyarakat sehat, tetapi sistem kesehatan lebih banyak membayar tindakan ketika orang sudah sakit. Kita ingin universitas menghasilkan *ilmu bermutu, tetapi dosen sering dihitung dari jumlah publikasi. Kita ingin bantuan sosial mengurangi kemiskinan, tetapi keberhasilan program kerap diukur dari banyaknya penerima dan dana yang tersalurkan.
Akhirnya sistem menjadi pandai mengelola masalah, bukan menyelesaikannya.
Yang lebih ironis, orang yang mencegah masalah sering tidak terlihat. Tidak ada konferensi pers untuk kebakaran yang tidak terjadi. Tidak ada seremoni untuk anggaran yang berhasil dihemat. Tidak ada headline untuk kecelakaan yang berhasil dicegah.
Heroisme terlihat. Pencegahan tidak.
Karena itu kebijakan publik jangan hanya bertanya; siapa yang salah?
Pertanyaan yang lebih tajam adalah;
siapa yang mendapat keuntungan ketika masalah tetap ada?
Keuntungannya tidak selalu uang. Bisa berupa anggaran, proyek, jabatan, kewenangan, statistik kinerja, bahkan alasan keberadaan sebuah lembaga.

Di sinilah moral hazard tumbuh. Kalau untung dinikmati sendiri, tetapi kerugian ditanggung negara, orang terdorong mengambil risiko lebih besar. Kalau anggaran tahun depan bergantung pada kemampuan menghabiskan anggaran tahun ini, jangan heran kalau Desember menjadi musim belanja. Kalau karier akademik bergantung pada jumlah publikasi, jangan heran kalau kualitas ilmu dikalahkan industri artikel.

Kita terlalu sering mengganti pejabat, membentuk tim baru, dan menambah regulasi, tetapi membiarkan mesin insentifnya tetap sama.
Padahal manusia merespons insentif jauh lebih konsisten daripada pidato moral.

Hargai daerah karena kebakaran tidak terjadi.

Maka koreksinya sederhana secara konsep: bayarlah hasil yang kita inginkan, bukan aktivitas yang mudah dihitung.

Hargai birokrasi karena manfaat meningkat dengan biaya lebih rendah.

Hargai rumah sakit karena masyarakat lebih sehat. Hargai universitas karena pengetahuannya berdampak.

Hargai program sosial ketika penerimanya berhasil keluar dari bantuan.
Sebab sistem yang sehat bukan sistem yang paling sibuk memadamkan krisis.
Sistem yang sehat adalah sistem yang membuat krisis tidak menguntungkan untuk diciptakan, dipelihara, atau dibiarkan terjadi.
Jangan hanya follow the money. Follow the incentive.

Di sanalah biasanya akar persoalannya bersembunyi. [•]

|A||N||S|
Buitenzorg,
19Agustus2026
Verba volant, scripta manent

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
OPINI

Ketika Api Lebih Bankable daripada Pencegahan

Oleh : Andi N Sommeng Karhutla dan paradoks tata kelola: uang datang...

OPINI

Manner is Matter

Krisis Kepatutan di Era Digital. Oleh : Andi N Sommeng Indonesia hari...

Meritokrasi Ordal di Republik Titipan
OPINI

Meritokrasi Ordal di Republik Titipan

Oleh : Andi N Sommeng Di negeri yang rajin bicara meritokrasi, kadang...

Pengamat: Masyarakat Jangan Terkecoh Label Premium, Dugaan Manipulasi Kualitas Beras Harus Dibongkar
NASIONALOPINI

Pengamat: Masyarakat Jangan Terkecoh Label Premium, Dugaan Manipulasi Kualitas Beras Harus Dibongkar

Jakarta, hotfokus.com Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria, meminta masyarakat...