Jakarta, hotfokus.com
Pemerintah percepat penguatan sektor prioritas dan strategis untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Karenanya, berbagai langkah diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat investasi serta pertumbuhan baru yang memberi manfaat terhadap masyarakat luas.
“Arah kebijakan tersebut semakin penting di tengah ekonomi global yang masih dibayangi risiko geopolitik, energi, perdagangan dan pembiayaan,” kata Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Di sisi domestik, ia mengungkap ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat 5,45 persen selama semester I-2026, inflasi terjaga di angka 2,88 persen, sementara realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan.

Ini tercapai karena pemerintah terus mempercepat hilirisasi dan penguatan rantai pasok nasional. Hingga 2026 sebanyak 26 proyek hilirisasi telah di groundbreaking yang mencakup pengolahan batu bara menjadi DME (Dimethyl Ether/dimetil eter), hilirisasi tembaga dan emas, garam industri, alumina menjadi aluminium, serta waste to energy.
“Proyek tersebut diproyeksikan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru, juga memperkuat nilai tambah dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” jelasnya.
Selain itu juga penguatan pengelolaan sumber daya alam melalui pengembangan bank emas dan optimalisasi pengelolaan devisa hasil ekspor. Bank emas dikelola Pegadaian dan BSI (Bank Syariah Indonesia) mengelola 153 ton emas senilai Rp360 triliun atau sekitar 20 miliar dolar AS.
Sementara PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) telah mengelola devisa hasil ekspor (DHE) sebesar 14 miliar dolar AS dari tiga komoditas strategis dalam 2 bulan 13 hari operasional serta memonitor lebih dari 6.500 transaksi ekspor untuk memperkuat tata kelola dan mencegah praktik under invoicing maupun transfer pricing.
Di sisi kelembagaan, transformasi BUMN terus diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Dari total 1.074 BUMN termasuk anak dan cucu usaha, 290 di antaranya telah ditutup. Pemerintah menargetkan jumlah maksimum BUMN menjadi 300.
Sejalan dengan langkah tersebut, ia menambahkan laba BUMN meningkat dari Rp186 triliun pada 2024 menjadi Rp326 triliun pada 2025 atau tumbuh 75,3 persen. (bi)
Leave a comment